Trump Tuduh Iran Kembangkan Rudal Ancam AS dan Eropa, Perkuat Armada di Timur Tengah

- Rabu, 25 Februari 2026 | 14:50 WIB
Trump Tuduh Iran Kembangkan Rudal Ancam AS dan Eropa, Perkuat Armada di Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan kekhawatiran terhadap program persenjataan Iran. Tanpa menyertakan bukti spesifik, Trump menuduh Teheran telah mengembangkan rudal yang mampu mengancam Eropa, pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, dan bahkan berpotensi menjangkau wilayah Amerika Serikat yang berjarak sekitar 11.000 kilometer. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan bilateral yang telah berlangsung dan disertai dengan penguatan postur militer AS di kawasan tersebut.

Isi Pidato dan Tuduhan Tanpa Bukti

Dalam pidatonya, Presiden Trump secara eksplisit mengaitkan perkembangan kemampuan rudal Iran dengan ancaman langsung terhadap kepentingan AS dan sekutunya. Klaim tersebut disampaikan sebagai bagian dari narasi yang konsisten dari pemerintahan Trump mengenai ancaman Iran, meski kali ini fokus bergeser dari isu nuklir ke kemampuan rudal jarak jauh.

“Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat,” ujarnya.

Respons Militer: Penguatan Armada di Timur Tengah

Sebagai bentuk respons atas kekhawatiran yang dilontarkan, Trump mengonfirmasi telah diperkuatnya kehadiran militer AS di kawasan strategis tersebut. Armada yang dikerahkan disebutkan mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perang pengawalnya yang dilengkapi rudal Tomahawk—senjata yang sama yang digunakan dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Penguatan ini bukanlah yang pertama kali. Catatan menunjukkan pada akhir Januari, AS telah mengerahkan kelompok kapal induk kedua yang dipimpin oleh USS Gerald R. Ford. Dengan penambahan kapal perusak lainnya yang sedang dalam perjalanan, total kehadiran kapal perusak AS di wilayah Laut Arab dan sekitarnya dilaporkan mencapai 13 unit. Kapal-kapal tersebut juga dilengkapi dengan sistem pertahanan udara yang mumpuni.

Latar Belakang Ketegangan yang Berkepanjangan

Hubungan Washington dan Teheran memang berada pada titik yang sangat tegang, terutama sejak periode kepemimpinan Donald Trump. Pemerintahan AS secara konsisten bersikap reaksioner dan menuduh Iran memiliki agenda pengembangan senjata pemusnah massal. Puncak dari ketegangan ini adalah serangan militer AS yang menghancurkan pangkalan penelitian nuklir Iran.

Namun, dari sisi Iran, tuduhan-tuduhan tersebut selalu ditampik. Pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklir mereka murni untuk tujuan damai seperti pembangkit energi, dan sama sekali tidak ditujukan untuk pembuatan senjata.

Menjelang pidato Trump, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan telah lebih dulu membantah keras narasi tersebut. “Iran dalam keadaan apapun tidak akan mengembangkan senjata nuklir," tegasnya melalui sebuah unggahan di media sosial.

Pernyataan dari kedua pihak ini semakin mengukuhkan jurang perbedaan persepsi yang dalam, di mana klaim keamanan nasional dari satu sisi berhadapan dengan penyangkalan dan klaim hak berdaulat dari sisi lain, sementara postur militer di lapangan terus mengeras. Situasi ini menciptakan dinamika yang kompleks dan rentan di kawasan Timur Tengah.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar