PARADAPOS.COM - Laporan media AS, Newsweek, menyoroti tekanan operasional yang dihadapi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah, menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang dimulai akhir Februari 2026. Tekanan tersebut terlihat dari langkah Pentagon memindahkan aset pertahanan udara canggih, seperti sistem THAAD, dari wilayah lain termasuk Korea Selatan ke kawasan tersebut, sebagai respons atas gelombang serangan rudal dan drone yang intensif dalam beberapa pekan terakhir.
Relokasi Aset Pertahanan Tanda Tekanan Operasional
Menurut laporan yang dikutip Newsweek pada Rabu (11/3/2026), pasukan AS di Korea Selatan telah memindahkan sebagian dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Langkah strategis ini bukan satu-satunya; Pentagon juga diketahui menarik rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot dari berbagai wilayah, termasuk kawasan Indo-Pasifik. Relokasi mendadak ini mengindikasikan tingginya permintaan dan tekanan terhadap persediaan rudal pencegat yang mahal, yang dibutuhkan untuk menghadapi serangan udara berkelanjutan.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengonfirmasi kesulitan logistik ini. "Hal ini, membuat AS berupaya mengganti radar THAAD yang rusak akibat serangan drone di Yordania," tuturnya kepada The Wall Street Journal.
Eskalasi yang Memicu Gelombang Serangan
Ketegangan memuncak pada 28 Februari setelah serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangkaian aksi militer skala luas, mulai dari pembombardiran terhadap Tel Aviv dan Yerusalem, serangan ke pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab, hingga penutupan Selat Hormuz yang vital bagi lalu lintas minyak global. Fasilitas-fasilitas energi di kawasan itu juga menjadi sasaran, menciptakan situasi yang sangat rumit bagi keamanan regional.
Militer Iran mengklaim telah berhasil melumpuhkan setidaknya empat radar THAAD di berbagai pangkasan, termasuk di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Sistem THAAD sendiri merupakan tulang punggung pertahanan rudal balistik di kawasan, yang dirancang untuk menghancurkan ancaman pada tahap akhir penerbangannya. Kerusakan pada komponen kritis seperti radar tentu menjadi pukulan signifikan bagi kemampuan defensif koalisi yang dipimpin AS.
Kekhawatiran Sekutu dan Dampak Regional
Kebijakan relokasi aset pertahanan AS ini tidak berjalan mulus dan menuai kekhawatiran dari sekutu-sekutu lain. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, secara terbuka menyatakan keberatan atas pemindahan sistem pertahanan udara dari semenanjung Korea. Seoul khawatir langkah ini akan membuat pertahanannya rapuh dan justru memicu agresi lebih lanjut dari Korea Utara.
Dalam pernyataannya yang dilaporkan media domestik, Lee mengakui adanya keterbatasan pengaruh negaranya. "Meskipun kami telah menyatakan penentangan, kenyataannya adalah kami tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kami," ujarnya, seperti dikutip Kantor Berita Yonhap.
Ketergantungan Korea Selatan pada kehadiran militer AS, dengan hampir 30.000 personelnya, sangat besar, terutama dalam menghadapi keadaan perang teknis yang masih berlangsung dengan Pyongyang sejak 1953. Relokasi aset ini, meski dinyatakan sementara, menyisakan pertanyaan mengenai stabilitas jangka panjang di wilayah yang sudah rawan tersebut.
Sementara itu, di Timur Tengah, banyak negara Teluk yang menggunakan sistem pertahanan udara buatan AS terus menanggung beban serangan Iran. Tingginya intensitas serangan drone dan rudal, meski berhasil dihadang sebagian, secara perlahan menggerogoti stok persediaan rudal pencegat mereka, sebuah tantangan logistik dan finansial yang tidak ringan. Situasi ini menggambarkan kompleksitas konflik yang melibatkan banyak pihak, di mana tekanan tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga dalam rantai pasokan dan diplomasi pertahanan global.
Artikel Terkait
Ketegangan AS-Iran Picu Ancaman di Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Iran Tegaskan Tutup Jalur Diplomasi dengan AS, Ketegangan Ancam Pasokan Minyak Global
Alarm Salat Ramadan Picu Pendaratan Darurat Pesawat Southwest Airlines
Media Iran Klaim Netanyahu Tewas, Israel Bantah Sebagai Perang Informasi