PARADAPOS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dikabarkan melakukan pembicaraan telepon yang tegang dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Inti ketegangan itu adalah kekecewaan pihak AS terhadap janji-janji Israel terkait kemudahan menggulingkan rezim Iran, yang dianggap tidak terwujud pasca-konflik bersenjata. Laporan ini, yang pertama kali diungkap oleh media AS Axios, menyoroti retaknya koordinasi di tingkat tinggi antara kedua sekutu dekat itu di tengah upaya rumit merundingkan gencatan senjata.
Ketegangan Telepon dan Tuduhan "Operasi" Politik
Menurut sumber yang diwawancarai Axios, Vance menyampaikan kekecewaannya bahwa Netanyahu sebelumnya digambarkan menggambarkan perubahan rezim di Iran sebagai hal yang mudah dicapai. Janji itu kini terasa muluk di tengah realitas di lapangan. Kekecewaan Wakil Presiden AS itu bukan tanpa alasan, mengingat posisinya sebagai salah satu negosiator kunci dalam pembicaraan dengan Iran, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Seorang pejabat AS secara gamblang menyampaikan kritik tajam terhadap Netanyahu. "Sebelum perang, Bibi benar-benar menganggap hal ini mudah bagi presiden, dan menjanjikan perubahan rezim jauh lebih mungkin terjadi. Wakil Presiden sangat memahami muluk-muluknya pernyataan tersebut," ungkap pejabat tersebut.
Menyusul insiden itu, muncul tuduhan dari kalangan pejabat AS bahwa Israel secara diam-diam melancarkan serangan politik terhadap Vance. Mereka mencurigai Israel berada di balik sejumlah laporan yang menyebut Iran lebih memilih bernegosiasi dengan Vance, seolah-olah dia pihak yang paling lunak dalam pemerintahan AS.
"Ini adalah operasi Israel terhadap JD," tegas seorang pejabat AS tersebut. Kredibilitas Vance sebagai negosiator justru diakui secara internal. Pejabat senior AS lain menilai, "Jika Iran tidak bisa mencapai kesepakatan dengan Vance, mereka tidak akan mendapatkan kesepakatan. Dialah yang terbaik yang bisa mereka dapatkan."
Janji Mossad yang Gagal dan Kekecewaan Netanyahu
Latar belakang ketegangan ini berakar pada rencana intelijen Israel yang ambisius namun gagal terealisasi. Menurut investigasi The New York Times yang juga dilaporkan media Israel, Kepala Mossad David Barnea sebelumnya meyakinkan Netanyahu bahwa lembaganya dapat memicu pemberontakan massal di Iran melalui operasi rahasia, yang berpotensi menggulingkan rezim. Rencana inilah yang kemudian disampaikan Netanyahu kepada Presiden Donald Trump untuk membujuknya terlibat dalam perang.
Nyatanya, situasi berkembang jauh dari prediksi. Meski serangan AS-Israel berhasil menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, gelombang pemberontakan yang dijanjikan tak kunjung muncul. Alih-alih, masyarakat Iran justru menunjukkan solidaritas yang kuat dengan turun ke jalan mendukung pemerintah. Transisi kekuasaan ke putra Khamenei, Mojtaba, juga berjalan cepat, menggagalkan skenario kekacauan yang diharapkan.
Kegagalan ini rupanya menimbulkan frustrasi besar di pihak Israel. The New York Times melaporkan bahwa Netanyahu, di balik layar, menyatakan kekecewaannya karena janji Mossad tak terwujud. Dalam sebuah pertemuan keamanan, perdana menteri bahkan mengeluh bahwa rencana tersebut tidak berhasil dan mengkhawatirkan bahwa Presiden Trump mungkin memutuskan untuk menghentikan kampanye militer kapan saja.
Dampak dan Konteks yang Lebih Luas
Ketegangan antara Vance dan Netanyahu ini bukan insiden terisolasi. Sehari setelah panggilan telepon mereka, media Israel sayap kanan melaporkan bahwa Vance juga menyampaikan kekhawatiran keras mengenai kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Rangkaian peristiwa ini menggarisbawahi dinamika hubungan AS-Israel yang sedang diuji, tidak hanya oleh perbedaan strategi militer terhadap Iran, tetapi juga oleh isu-isu kebijakan regional yang lebih luas.
Kegagalan operasi penggulingan rezim yang dijanjikan Mossad meninggalkan pertanyaan besar tentang penilaian intelijen dan ekspektasi yang dibangun sebelum konflik. Sementara harapan untuk perubahan rezim di Tehran mungkin masih ada di kalangan tertentu di Israel, realitas di lapangan menunjukkan ketahanan yang tidak terduga dari pemerintah Iran dan kompleksitas mendalam dari politik dalam negeri mereka. Situasi ini memaksa semua pihak untuk meninjau ulang asumsi dan strategi mereka di kawasan yang sudah sangat rentan ini.
Artikel Terkait
Iran Mobilisasi Satu Juta Pejuang Hadapi Ancaman Invasi AS
Iran Klaim Mobilisasi Lebih dari Satu Juta Tentara Hadapi Ancaman Invasi AS
Hamparan Bunga Liar Kuning Mekar di Pemakaman Korban Konflik Gaza
Iran Rilis Rekaman Terakhir Khamenei, Penerus Tolak Proposal Damai