Netanyahu Tegaskan Konflik dengan Iran Belum Usai di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir

- Senin, 11 Mei 2026 | 01:50 WIB
Netanyahu Tegaskan Konflik dengan Iran Belum Usai di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir

PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa konflik dengan Iran belum mencapai titik akhir. Dalam pernyataan yang disiarkan pada Senin, 11 Mei 2026, ia menekankan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait penghentian program nuklir Iran dan pembatasan kekuatan militernya. Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan, serta ketegangan yang masih membara di Selat Hormuz.

Netanyahu: Masih Ada Material Nuklir yang Harus Dibongkar

Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS yang tayang pada Minggu malam, Netanyahu memaparkan secara rinci kekhawatirannya. Ia menyebut Iran masih memiliki uranium yang diperkaya, fasilitas nuklir yang belum dibongkar, serta kelompok proksi dan rudal balistik yang terus dikembangkan. “Masih ada material nuklir dan lokasi pengayaan yang harus dibongkar. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Saat jurnalis bertanya mengenai metode yang digunakan Amerika Serikat dan Israel untuk mengamankan material nuklir Iran, jawaban Netanyahu terdengar lugas dan tanpa basa-basi. “Kalian masuk, lalu mengambilnya keluar,” tuturnya singkat.

Pernyataan tegas ini keluar di tengah situasi lapangan yang masih panas di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang menjadi urat nadi ekonomi global. Aktivitas militer di kawasan tersebut masih tinggi, dan belum ada tanda-tanda pendinginan yang signifikan.

Negosiasi Damai di Ujung Tanduk

Di sisi lain, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran melalui mediator Pakistan belum membuahkan hasil. Pada Minggu, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menolak tawaran balasan terbaru dari Iran. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut proposal Iran sama sekali tidak dapat diterima. Penolakan ini menambah daftar panjang kegagalan komunikasi antara kedua negara.

Menurut laporan yang beredar, Iran menolak sejumlah tuntutan utama AS yang berkaitan dengan program nuklirnya. Teheran meminta agar pembicaraan mengenai nuklir dipisahkan dari kesepakatan damai secara keseluruhan. Mereka juga mengusulkan sebagian uranium yang diperkaya untuk diencerkan, sementara sisanya dikirim ke negara ketiga. Uniknya, uranium tersebut dapat dikembalikan ke Iran apabila AS keluar dari kesepakatan di masa depan.

Sebagai bagian dari usulan itu, Iran meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka. Sebagai imbalannya, Iran berjanji akan membuka kembali Selat Hormuz untuk jalur perdagangan internasional yang selama ini tersendat.

Jalan Buntu di Meja Perundingan

Meski ada tawaran dari Teheran, AS tetap pada pendiriannya. Washington menuntut jaminan bahwa Iran menghentikan program nuklirnya secara menyeluruh dan permanen. Dari informasi yang dihimpun, Iran bersedia menghentikan pengayaan uranium, tetapi hanya untuk sementara waktu. Mereka menolak keras pembongkaran fasilitas nuklir yang sudah ada.

Perbedaan mendasar ini membuat meja perundingan seolah berputar di tempat. Di satu sisi, Israel di bawah Netanyahu terus mendesak tindakan tegas. Di sisi lain, AS dan Iran masih terjebak dalam perang kata-kata dan saling tuding. Situasi di lapangan pun belum menunjukkan perubahan berarti, dengan Selat Hormuz masih menjadi titik rawan yang bisa memicu eskalasi kapan saja.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar