Iran Klaim Serang Delapan Instalasi Militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai Balasan

- Senin, 29 Juni 2026 | 02:00 WIB
Iran Klaim Serang Delapan Instalasi Militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai Balasan

PARADAPOS.COM - Iran mengklaim berhasil melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan delapan instalasi militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain pada Minggu, 28 Juni 2026. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan operasi yang melibatkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara tersebut berjalan sukses. Serangan ini merupakan respons langsung atas gempuran AS terhadap fasilitas militer Iran sehari sebelumnya, yang menargetkan radar dan gudang rudal di Sirik dan Qeshm. Eskalasi ini menjadi bentrokan bersenjata terbesar antara kedua negara sejak penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai pada 17 Juni lalu.

Di lapangan, ketegangan di kawasan Teluk Persia memang sudah berada di titik didih. Beberapa hari terakhir, Selat Hormuz menjadi pusaran konflik yang kian sulit dikendalikan. Pemicu awalnya adalah serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo yang melintas tanpa izin di selat strategis tersebut pada Kamis lalu. Washington merespons dengan menyerang posisi-posisi militer Iran di pesisir Selat Hormuz. Teheran kemudian membalas dengan menghujani pangkalan AS di Bahrain.

Operasi Balasan Iran

IRGC menyebut serangan dini hari itu sebagai aksi pembalasan yang sah. Mereka mengerahkan rudal balistik dan drone untuk menghantam infrastruktur militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, serta fasilitas yang terkait dengan Armada Kelima AS di Bahrain. Dari laporan yang beredar, rentetan ledakan terdengar di beberapa titik dekat pangkalan tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban atau tingkat kerusakan dari pihak Amerika Serikat.

“Operasi ini sukses,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh IRGC. Mereka menegaskan bahwa serangan tersebut adalah respons langsung atas agresi AS terhadap target-target Iran sehari sebelumnya. Atribusi pernyataan ini disampaikan langsung oleh juru bicara militer Iran dalam sebuah briefing yang digelar tertutup.

Kronologi Ketegangan yang Melonjak

Konflik terbaru ini sebenarnya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Rangkaian saling serang dimulai ketika Iran mengintervensi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Tindakan itu dianggap oleh AS sebagai provokasi yang tidak bisa ditoleransi. Washington lantas melancarkan serangan udara ke fasilitas radar dan gudang penyimpanan rudal Iran di pesisir selat tersebut.

Iran tidak tinggal diam. Mereka membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan militer di Bahrain. Skenario yang sama kembali terulang pada Sabtu, di mana kedua pihak saling melancarkan serangan dalam waktu yang berdekatan. Pola ini menunjukkan bahwa siklus pembalasan masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Di tengah situasi yang kian panas, Selat Hormuz—yang selama ini menjadi jalur vital pengangkutan minyak dunia—kini berubah menjadi medan pertempuran terbuka. Pengamat militer menilai bahwa eskalasi ini mengancam stabilitas kawasan dan berpotensi memicu krisis energi global jika tidak segera diredam. Belum ada pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat mengenai langkah selanjutnya, sementara Iran terus mengklaim kesiapan mereka untuk menghadapi segala kemungkinan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar