12.279 Tenaga Honorer Kategori Ini Diprioritaskan Jadi PPPK 2024, Langsung Diangkat Tanpa Tes! Kamu Termasuk?

- Sabtu, 13 Januari 2024 | 06:20 WIB
12.279 Tenaga Honorer Kategori Ini Diprioritaskan Jadi PPPK 2024, Langsung Diangkat Tanpa Tes! Kamu Termasuk?

paradapos.com - Tenaga honorer nampaknya akan menghirup angin segar pada tahun ini.

Pasalnya, UU ASN sudah mengamanatkan agar penataan tenaga honorer yang merupakan proses verifikasi, validasi dan pemgangkatan non ASN harus selesai hingga Desember 2024.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpann RB) dengan dikawal Komisi II DPR sedang menyiapkan skenario terbaiknya agar tenaga honorer seluruhnya dapat diangkat menjadi PPPK tanpa terkecuali.

Baru-baru ini Menpan RB dengan diumumkan oleh presiden telah membuka seleksi CASN dengan 1,6 juta formasi bagi guru dan dosen, nakes, hingga tenaga teknis honorer untuk masuk menjadi PPPK 2024.

Hal tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah agar tenaga honorer kemudian dapat berkurang.

Baca Juga: Yah! Konser Universe Ticket di Seoul Dibatalkan Karena Beberapa Hal Ini

Mekanisme lain secara lebih rinci akan dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) turunan UU ASN yang akan ditetapkan pada bulan April mendatang.

Sementara itu, ada kabar baik bagi tenaga honorer kategori ini yang sampai saat ini statusnya masih non ASN.

Kategori prioritas yang dimaksud adalah Guru honorer yang lulus Passing grade (PG) pada tahun 2021.

Terdapat 12.279 guru honorer yang lulus PG namun belum kunjung diangkat menjadi PPPK karena keterbatasan formasi.

Dirjen GTK Kemendikbud Ristek, Profesor Nunuk Suryani mengatakan bahwa 12.279 guru honorer ini akan langsung menjadi PPPK tahun 2024 tanpa harus melakukan tes kembali.

Dirinya juga menyinggung guru honorer yang sudah lulus PG tahun 2022 dan 2023, namun golongan yang lulus tahun tersebut tetap harus mengikuti tes kembali dengan membuat akun SSCASN.

Namun daripada itu, guru honorer lain harus tetap tenang, mengingat mekanisme pemgangkatan tenaga honorer belum diresmikan oleh Menpan RB.

Baca Juga: Mengungkap Tuntas Ramalan Harian 13 Januari 2024 bagi Zodiak Capricorn, Aquarius, dan Pisces!

Artikel ini telah lebih dulu tayang di: sewaktu.com

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini