Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 954 Persen di Kuartal I-2026, Didorong Integrasi Aset Energi

- Rabu, 06 Mei 2026 | 13:00 WIB
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 954 Persen di Kuartal I-2026, Didorong Integrasi Aset Energi
PARADAPOS.COM - PT Chandra Asri Pacific Tbk mencatat lonjakan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal I-2026. Perusahaan membukukan EBITDA kuartalan sebesar USD421 juta dan laba bersih USD205 juta, masing-masing melonjak 1.813,6 persen dan 954 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini utamanya didorong oleh integrasi segmen energi yang kini menyumbang 60 persen dari total pendapatan.

Transformasi Melalui Integrasi Aset Energi

Di balik angka fantastis tersebut, terdapat proses transformasi disiplin yang telah dijalankan manajemen. Keberhasilan ini merupakan hasil dari integrasi aset energi yang baru diakuisisi di Singapura, yang kini menjadi fondasi utama strategi perusahaan. Fokus utama Chandra Asri saat ini terletak pada keberhasilan mengintegrasikan kilang Aster—sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park—yang diakuisisi pada April 2025. Selain itu, perusahaan juga mengelola jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang resmi menjadi bagian dari grup sejak Januari 2026. “Kami bekerja keras untuk memastikan kelancaran dari proses penyelesaian transaksi yang kompleks bersama Shell, CPSC, dan ExxonMobil berjalan lancar,” ungkap Chief Financial Officer Chandra Asri Grup, Andre Khor, dalam keterangan tertulis, Rabu, 6 Mei 2026. Akuisisi-akuisisi ini, bersama dengan unit infrastruktur Grup PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) dan pusat layanan bersama yang baru beroperasi, Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), kini memberikan pendapatan berulang (recurring income). Efisiensi operasional yang dihasilkan menjadi modal berharga bagi perusahaan untuk menghadapi volatilitas pasar global yang kerap tidak menentu.

Ketangkasan di Tengah Tekanan Geopolitik

Yang membedakan Chandra Asri dengan pemain regional lainnya adalah kemampuannya memanfaatkan kemitraan strategis. Perusahaan menggandeng Glencore, salah satu pedagang komoditas global dan produsen sumber daya alam terdiversifikasi terkemuka dunia, untuk mendiversifikasi bahan baku (feedstock). Saat kompetitor kerap terbatas oleh jalur pasokan tradisional, Grup justru menunjukkan ketangkasan dengan secara aktif mencari dan menguji minyak mentah (crude) dari berbagai penjuru dunia—mulai dari Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika Barat, hingga Asia Tenggara. “Gangguan geopolitik, terutama risiko eskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada Selat Hormuz, secara historis menciptakan kecemasan dalam rantai pasok. Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan kemampuan pengadaan global memungkinkan perusahaan untuk melewati hambatan konvensional demi menjaga operasional tetap lancar terlepas dari volatilitas regional,” ujar Andre Khor. Ketangkasan operasional ini teruji pada Februari 2026. Saat itu, perseroan berhasil menyelesaikan uji coba teknis yang meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 dan MTBE di Cilegon hingga 25 persen. Dengan mengolah minyak mentah dan produk intermediate yang kompetitif, Grup berhasil mempertahankan tingkat utilisasi yang tinggi dan hasil produk yang unggul—bahkan di tengah kondisi industri petrokimia global yang sedang menantang.

Fondasi Keuangan yang Kokoh untuk Ekspansi

Kemampuan Grup mengeksekusi strategi M&A secara terprogram tidak lepas dari posisi keuangan yang sangat solid. Manajemen berhasil menghimpun pendanaan pada waktu yang tepat, sehingga menghasilkan likuiditas sebesar USD3,8 miliar. Dana tersebut memposisikan Grup untuk melanjutkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai USD800 juta. Proyek yang dikerjakan bersama Indonesia Investment Authority (INA) dan Danantara ini kini telah mencapai progres 60 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Berdasarkan Laporan Keuangan Interim Konsolidasian Yang Tidak Diaudit kuartal I-2026, struktur modal perusahaan tercermin kuat. Current ratio berada di angka 3,09x, EBITDA coverage 4,01x, dan Long Term Debt to Equity sebesar 1,1x. Posisi ini memberikan bantalan fiskal yang memadai untuk menavigasi siklus pasar sambil terus mengejar ekspansi regional. Cadangan likuiditas tersebut juga mencakup pinjaman terkait keberlanjutan (sustainability-linked loan) senilai USD1 miliar yang diperoleh pada September 2025. Pinjaman ini merupakan yang pertama dari jenisnya di sektor ini, digunakan untuk mendukung modal kerja dan inisiatif peremajaan aset Aster.

Peta Jalan Menuju Masa Depan

Di tengah kondisi industri petrokimia yang mengalami kelebihan pasokan, Chandra Asri meluncurkan penyegaran strategi yang terdiri dari empat pilar: Rejuvenate the Core (Peremajaan Inti Bisnis); Orient Towards Sustainability (Berorientasi pada Keberlanjutan); Accelerate M&A and Integration (Akselerasi M&A dan Integrasi); serta Reimagine Business Models (Reimajinasi Model Bisnis). Keempat pilar ini disingkat menjadi ROAR—sebuah peta jalan perusahaan untuk bertransformasi menuju solusi energi, kimia, dan infrastruktur terintegrasi. “Secara ringkas, perusahaan telah mentransformasi portofolio, memperkuat neraca keuangan secara paralel, dan memberikan rekor hasil kinerja pada Q1 2026. Kami memiliki rencana masa depan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan, dengan terus berfokus pada eksekusi serta pencapaian target guna meningkatkan skala platform kami secara konsisten,” tutup Andre Khor.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar