Ray juga menanggapi pernyataan dari politisi PSI mengenai elite PDIP yang dianggap belum berdamai dengan sejarah. Ia menegaskan bahwa yang terjadi bukanlah soal berdamai, melainkan tidak melupakan sejarah atau 'Jas Merah'.
Pentingnya Mengingat Sejarah
Ray Rangkuti menekankan bahwa semboyan Jas Merah merupakan pengingat penting akan fase otoriterisme di masa lalu dan transisi menuju demokratisasi pada 1998. Ia menyayangkan jika ada pihak yang dianggap ingin melupakan sejarah kelam tersebut.
"Hanya karena reformasi, Jokowi bisa mencapai posisi jadi presiden. Kok sekarang mau melupakan sejarah kelam dan menganggap pengorbanan rakyat sebagai hal biasa untuk kediktatoran Soeharto ketika itu," tegas Ray Rangkuti menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Dokumen Epstein: Kaitan Hary Tanoe, Trump, dan Misteri Indonesian CIA Terungkap
10 Surat Tanah Tidak Berlaku 2026: Girik, Letter C, Petuk Wajib Sertifikat
5 Rekomendasi Bare Metal Server Terbaik 2024: IDCloudHost, OVHcloud, Hetzner, dll.
Siapa Ayah Kandung Ressa Rossano? Denada Akui Anak, Adjie Pangestu Bantah