Ustaz Abdul Somad dan Dukungan Politik: Analisis Kasus Penangkapan Gubernur Riau Abdul Wahid oleh KPK
Penangkapan Gubernur Riau, Abdul Wahid, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi sorotan publik, terutama setelah Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan pembelaan. UAS menyatakan bahwa Abdul Wahid bukan ditangkap, melainkan hanya dimintai keterangan. Namun, publik cenderung lebih percaya pada pernyataan UAS, yang dikenal sebagai mubalig kondang dan memiliki pengaruh luas.
Ini bukan pertama kalinya Gubernur Riau berurusan dengan KPK. Sebelumnya, ada pula kasus serupa yang melibatkan pejabat di daerah tersebut. Abdul Wahid, yang didukung oleh UAS dalam pemilihan gubernur, kini harus berhadapan dengan hukum. Pertanyaannya, apakah dukungan dari ustaz sekaliber UAS memberikan jaminan perlindungan politik?
Abdul Wahid ditangkap di sebuah kafe setelah sempat melarikan diri. Hal ini mengundang tanya, mengapa ia tidak mencari perlindungan ke institusi seperti STIK atau PTIK, sebagaimana dilakukan oleh Hasto Kristiyanto sebelumnya. Tindakan pelarian seperti ini dianggap tidak efektif dalam menghadapi proses hukum.
Kasus ini juga menyoroti betapa pentingnya "backup" politik bagi seorang pejabat. Sebagai perbandingan, Bobby Nasution berhasil menghindari penangkapan meskipun ada anggota dinasnya yang ditangkap. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan politik dapat mempengaruhi proses hukum.
Artikel Terkait
Liu Xiaodong, Otak Pencurian Emas 774 Kg di Ketapang, Resmi Dilimpahkan ke Kejaksaan
Surat Anak SD Bunuh Diri di NTT: Analisis Dampak Kemiskinan dan Tanggung Jawab Negara
Ancaman Militer AS ke Iran: Analisis Dampak Hegemoni & Solusi Diplomasi Global
Izin SMA Siger Bandar Lampung Ditolak Disdikbud, Siswa Harus Pindah Sekolah