Viral Unggahan Anak Purbaya: Toba Pulp Lestari Diduga Penyebab Banjir Sumut?

- Kamis, 04 Desember 2025 | 06:25 WIB
Viral Unggahan Anak Purbaya: Toba Pulp Lestari Diduga Penyebab Banjir Sumut?
Unggahan Anak Purbaya Viral, Soroti Jejak Toba Pulp Lestari dan Isu Banjir Sumut

Unggahan Anak Purbaya Viral, Soroti Jejak Toba Pulp Lestari dan Isu Banjir Sumut

Polemik pengelolaan hutan di Sumatera Utara kembali mencuat setelah unggahan Instagram Story anak Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjadi viral di media sosial.

Dalam unggahannya, ia menuding PT Toba Pulp Lestari (TPL) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penggundulan hutan yang diduga turut memperburuk banjir besar di Sumatera Utara dan Aceh.

Unggahan ini memantik kembali perbincangan publik mengenai rekam jejak perusahaan industri pulp yang sarat kontroversi tersebut.

Sejarah Panjang dan Kontroversi Toba Pulp Lestari

Nama Toba Pulp Lestari bukanlah nama baru. Perusahaan ini memiliki sejarah panjang yang kerap bersinggungan dengan isu lingkungan dan konflik sosial.

Berdiri pada 1983 dengan nama awal PT Inti Indorayon Utama, perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto ini cepat menjadi pemain besar industri pulp Indonesia.

Penolakan masyarakat sipil dan warga sekitar mulai menguat pada akhir 1990-an, seiring dengan laporan pencemaran dan penggundulan hutan.

Pada periode 2000–2001, Indorayon berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari, yang dianggap banyak pihak sebagai upaya memperbaiki citra negatif masa lalu.

Dinamika Kepemilikan dan Keterkaitan Bisnis

Struktur kepemilikan TPL terus berubah. Pinnacle Company Pte. Ltd. pernah menjadi pemegang saham mayoritas hingga 2021.

Laporan terakhir menunjukkan bahwa 92,54% saham TPL kini dikuasai oleh Allied Hill Limited, sebuah entitas berbasis di Hong Kong, dengan Joseph Oetomo sebagai ultimate beneficial owner.

Di sisi lain, TPL secara berulang membantah tudingan keterkaitannya dengan kelompok bisnis Royal Golden Eagle (RGE Group) maupun dengan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Perusahaan menegaskan telah berjalan secara independen tanpa hubungan struktural atau finansial dengan pihak-pihak tersebut.

Tuntutan Publik dan Masa Depan Pengelolaan Hutan

Viralnya unggahan dari keluarga pejabat negara ini kembali menyoroti dampak industri pulp terhadap degradasi hutan.

Dugaan bahwa deforestasi memperparah bencana banjir di Sumatera Utara dan Aceh semakin menguatkan tuntutan masyarakat agar pemerintah:

  • Memperketat pengawasan terhadap perusahaan kehutanan.
  • Menegakkan regulasi lingkungan secara konsisten.
  • Memastikan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan hutan, khususnya di kawasan sensitif seperti ekosistem Danau Toba.

Diskusi tentang peran dan akuntabilitas perusahaan seperti TPL semakin relevan di tengah krisis iklim global dan komitmen konservasi nasional.

Viralnya satu unggahan di media sosial kembali membuka kotak Pandora sejarah panjang sebuah perusahaan, menuntut transparansi dan kelestarian yang lebih baik untuk masa depan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar