Ahok Tolak Sawit di Hutan Papua: Peringatan Keras Bencana Ekologis

- Selasa, 23 Desember 2025 | 12:50 WIB
Ahok Tolak Sawit di Hutan Papua: Peringatan Keras Bencana Ekologis
Ahok Menentang Hutan Papua Ditanami Sawit: Peringatan Bencana Ekologis

Ahok Tegas Menentang Rencana Tanam Sawit di Hutan Papua, Peringatkan Bencana Ekologis

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyampaikan peringatan serius terkait rencana alih fungsi hutan Papua untuk sawit.

Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok secara tegas menyatakan penolakannya terhadap wacana penanaman kelapa sawit di kawasan hutan Papua. Mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini menjadi politisi PDIP ini memperingatkan bahwa Papua berpotensi mengalami bencana ekologis serupa dengan yang terjadi di Sumatra jika rencana tersebut diteruskan.

Pernyataan Ahok di Media dan Pengalaman Langsung Menolak Sawit

Peringatan ini disampaikan Ahok dalam channel YouTube miliknya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pada Selasa, 23 Desember 2025. Dalam video berjudul "Jaga Hutan Papua Jangan Jadikan Lahan Sawit!", Ahok bercerita tentang pengalamannya menolak investasi sawit saat menjabat sebagai Bupati Belitung Timur.

"Waktu saya di bupati pun kita sempat menolak sawit," ujarnya. Menurut Ahok, skema kemitraan atau plasma kerap tidak berjalan baik di lapangan dan hanya menguntungkan satu pihak. Sebagai solusi, ia pernah mengusulkan agar 20-40 persen hasil sawit menjadi milik desa dan dikelola seperti koperasi.

Kritik Ahok terhadap Rencana Sawit di Hutan Papua dan Ancaman Monokultur

Ahok kemudian merespons secara khusus rencana yang dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan sawit di Papua. Ia membedakan antara penanaman di lahan bekas tambang (tailing) yang menurutnya masih bisa dipertimbangkan, dengan pembukaan hutan hujan atau rainforest yang justru akan membawa malapetaka.

"Tapi kalau Anda ubah hutan hujan, rainforest jadi sawit, tanaman monokultur udah banyak ngomong. Di mana flora-fauna kita akan bisa hidup? Ini akan membawa bencana lagi seperti di Sumatra, karena (kebun sawit) di Sumatra sudah melampaui (batas),” tegas Ahok.

Perbandingan dengan Negara Maju dan Sistem yang Belum Siap

Ahok juga memberikan perspektif sejarah. Ia mengakui bahwa negara-negara maju dahulu menjadi kaya dengan mengeksploitasi sumber daya alam, termasuk menebang hutan. Namun, perbedaannya terletak pada sistem ekonomi dan pajak yang kuat yang mereka bangun kemudian, sehingga mampu menjamin kesejahteraan warganya di masa tua.

Sementara itu, Indonesia sudah lama mengeksploitasi alam tetapi hasilnya dinilai tidak cukup kembali ke rakyat. Sistem pajak dan jaminan sosial dinilainya belum mampu menjamin kehidupan warga saat pensiun. “Sekarang kita sudah tua, pajak kita bisa balikin nggak untuk pelihara kita, pensiun? Nggak bisa,” ujarnya.

Ahok mencontohkan China yang melakukan reboisasi besar-besaran, sementara Indonesia justru terus membuka hutan, bahkan hutan lindung. “Nah kita cuma potong saja, hutan lindung pun disikat, dicuri, dan pura-pura nggak ada yang tahu,” sindirnya.

Kesimpulan dan Penegasan Sikap Ahok

Ahok menegaskan kembali sikap penolakannya yang keras terhadap konversi hutan Papua untuk sawit. “Saya menentang kalau Papua itu untuk ganti sawit. Tapi kalau daerah bekas tambang, tailing, daerah yang tandus Anda tanami sawit, is masih oke," pungkasnya. Pernyataan ini menjadi peringatan penting dalam debat antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan di Indonesia.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar