Dino juga menyoroti kejanggalan komposisi anggota dewan. Kehadiran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di dalam dewan ini dipertanyakan, sementara posisi perwakilan resmi Palestina tidak jelas. Tanpa keterlibatan setara, solusi dua negara dinilai hanya akan menjadi wacana.
Ia mengingatkan pemerintah untuk mempertegas sikap diplomasi agar Indonesia tidak dicap sebagai 'anak buah' Trump. "Kita harus pastikan Dewan Perdamaian ini tidak menyaingi apalagi melangkahi wewenang PBB," tegas Dino.
Sorotan Tajam pada Iuran Fantastis Rp17 Triliun
Isu iuran keanggotaan juga menjadi perhatian. Menanggapi tuntutan Donald Trump agar anggota permanen menyetor dana US$1 miliar atau setara Rp17 triliun, Dino memberikan nasihat tegas: Indonesia tidak perlu membayar iuran fantastis tersebut.
Di tengah situasi ini, Dino mendorong Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta untuk tampil lebih aktif memberikan penjelasan transparan kepada publik. Penjelasan ini dinilai penting untuk menjawab keraguan terkait Piagam Dewan Perdamaian yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto.
Meski disebut sebagai momen bersejarah, Dino mengingatkan bahwa dalam diplomasi internasional, niat baik saja tidak cukup. Ketajaman membaca arah kepentingan dan kesetiaan pada amanat konstitusi adalah kunci agar Indonesia tidak terseret dalam agenda yang merugikan.
Artikel Terkait
Meteor Jatuh di Danau Maninjau? Ini Fakta dan Klarifikasi Polisi Terbaru
Tower Seluler Ambruk di Surabaya: Timpa Mobil Parkir di Sekolah Perhotelan Joyoboyo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Gizi Anak atau Cuma Proyek Anggaran?
Pidato Prabowo di WEF 2026: Visi Kekuasaan untuk Rakyat Lemah dan Program Sosial Indonesia