Surat Anak SD di NTT yang Bunuh Diri: Refleksi Keras tentang Kemiskinan dan Tanggung Jawab Negara
Oleh: Gde Siriana Yusuf
Sebuah berita dari Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadirkan luka yang dalam. Seorang anak berusia sepuluh tahun, siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya—tulisan tangan sederhana yang berisi kalimat terlalu dewasa untuk usianya.
Beban Kesunyian yang Terlalu Berat untuk Seorang Anak
Dalam suratnya, anak itu pamit dan meminta sang ibu untuk tidak menangis. Kisah ini bukan sekadar tragedi bunuh diri anak, tetapi gambaran pilu tentang seorang anak yang dipaksa memahami beban hidup jauh sebelum waktunya. Ada kesunyian dan rasa bersalah yang tak seharusnya ia pikul, seolah ia merasa menjadi beban dan memilih menghapus diri agar dunia orang dewasa lebih ringan.
Kemiskinan Bukan Takdir, Melainkan Tanggung Jawab Negara
Bunuh diri bisa menimpa siapa saja, tetapi konteksnya sering kali terikat pada struktur sosial. Ketika seorang anak tidak bisa meminta uang untuk buku dan pena karena ketiadaan, itulah kegagalan sistem yang lebih besar. Kemiskinan memaksa anak-anak memahami keterbatasan, menahan keinginan, dan memendam kekecewaan sejak dini.
Fenomena anak usia SD yang terpaksa bekerja di sektor informal—mengamen, menjual tisu, atau berkeliling menjajakan cobek—adalah bukti nyata. Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar, mereka justuru belajar menahan malu dan membaca penolakan.
Artikel Terkait
Ancaman Militer AS ke Iran: Analisis Dampak Hegemoni & Solusi Diplomasi Global
Izin SMA Siger Bandar Lampung Ditolak Disdikbud, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan 16 Ormas Islam
Fakta Nama Sri Mulyani di Epstein File: Konteks Profesional di Bank Dunia