Surat Anak SD Bunuh Diri di NTT: Analisis Dampak Kemiskinan dan Tanggung Jawab Negara

- Rabu, 04 Februari 2026 | 12:25 WIB
Surat Anak SD Bunuh Diri di NTT: Analisis Dampak Kemiskinan dan Tanggung Jawab Negara

Surat Anak SD di NTT yang Bunuh Diri: Refleksi Keras tentang Kemiskinan dan Tanggung Jawab Negara

Oleh: Gde Siriana Yusuf

Sebuah berita dari Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadirkan luka yang dalam. Seorang anak berusia sepuluh tahun, siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya—tulisan tangan sederhana yang berisi kalimat terlalu dewasa untuk usianya.

Beban Kesunyian yang Terlalu Berat untuk Seorang Anak

Dalam suratnya, anak itu pamit dan meminta sang ibu untuk tidak menangis. Kisah ini bukan sekadar tragedi bunuh diri anak, tetapi gambaran pilu tentang seorang anak yang dipaksa memahami beban hidup jauh sebelum waktunya. Ada kesunyian dan rasa bersalah yang tak seharusnya ia pikul, seolah ia merasa menjadi beban dan memilih menghapus diri agar dunia orang dewasa lebih ringan.

Kemiskinan Bukan Takdir, Melainkan Tanggung Jawab Negara

Bunuh diri bisa menimpa siapa saja, tetapi konteksnya sering kali terikat pada struktur sosial. Ketika seorang anak tidak bisa meminta uang untuk buku dan pena karena ketiadaan, itulah kegagalan sistem yang lebih besar. Kemiskinan memaksa anak-anak memahami keterbatasan, menahan keinginan, dan memendam kekecewaan sejak dini.

Fenomena anak usia SD yang terpaksa bekerja di sektor informal—mengamen, menjual tisu, atau berkeliling menjajakan cobek—adalah bukti nyata. Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar, mereka justuru belajar menahan malu dan membaca penolakan.

Ironi Kehadiran Negara di Atas Kertas vs. Kenyataan

Halaman:

Komentar