Indonesia memiliki Badan Percepatan Penghapusan Kemiskinan, Kementerian Sosial, dan berlapis program afirmatif. Di atas kertas, negara hadir dengan niat baik. Namun, di lapangan, seorang anak masih bisa merasa begitu sendiri dan tak tertolong hingga mengambil keputusan tragis.
Ironi semakin menjadi ketika korupsi oleh pejabat terus terjadi dengan angka kerugian negara yang fantastis. Negara terkesan membiarkan segelintir orang merampok kekayaan nasional, sementara anak-anak miskin diminta untuk kuat, sabar, dan cepat dewasa.
Dampak Kemiskinan Struktural dan Tekanan Media Sosial
Kemiskinan struktural merampas masa kanak-kanak dan menggantinya dengan kecemasan serta rasa tidak layak. Tekanan ini diperparah di era media sosial yang konsumtif. Ponsel menjadi jendela yang kejam, memamerkan gaya hidup mewah yang tak terjangkau, sementara di sisi lain ada anak yang merasa gagal bahkan sebelum bermimpi.
Pertanyaan Kritis yang Harus Dijawab Bersama
Tragedi ini memantik pertanyaan mendesak:
- Di mana negara ketika anak-anak perlahan kehilangan alasan untuk hidup?
- Seberapa serius komitmen penghapusan kemiskinan jika tragedi serupa terus berulang?
- Seberapa bermakna program-program pemerintah jika pada akhirnya seorang anak masih menulis surat perpisahan yang memilukan?
Surat pendek dari Ngada itu meninggalkan jejak yang panjang. Ia akan terus menghantui selama kemiskinan hanya diperlakukan sebagai angka statistik, bukan sebagai penderitaan manusia nyata. Selama negara lebih cepat menghitung kerugian korupsi daripada merasakan luka anak-anaknya, dan selama kita membaca kisah ini lalu berlalu tanpa perubahan, maka kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud untuk semua.
Gde Siriana Yusuf adalah Direktur Indonesia Future Studies.
Artikel Terkait
Ancaman Militer AS ke Iran: Analisis Dampak Hegemoni & Solusi Diplomasi Global
Izin SMA Siger Bandar Lampung Ditolak Disdikbud, Siswa Harus Pindah Sekolah
Presiden Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Board of Peace, Dapat Dukungan 16 Ormas Islam
Fakta Nama Sri Mulyani di Epstein File: Konteks Profesional di Bank Dunia