Kunjungan Afriansyah Noor ke Jokowi Dikritik Pengamat: Tidak Mungkin Spontan

- Senin, 09 Februari 2026 | 06:00 WIB
Kunjungan Afriansyah Noor ke Jokowi Dikritik Pengamat: Tidak Mungkin Spontan

PARADAPOS.COM - Kunjungan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Afriansyah Noor, ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada Minggu (8/2/2026) siang, memantik beragam tafsir di kalangan politik. Pertemuan yang digambarkan Afriansyah sebagai langkah spontan itu justru dinilai pengamat penuh dengan pesan politik tersirat, terutama dalam meredakan ketegangan yang selama ini terlihat antara kubu Demokrat dan Jokowi.

Pertemuan yang Disebut "Go Show"

Afriansyah Noor tiba di rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, pada siang hari. Dalam keterangannya usai bertemu, ia menyebut kunjungan itu tidak direncanakan jauh hari dan bahkan tidak dilaporkan terlebih dahulu kepada Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kebetulan saya tidak melaporkan ke Pak SBY (kunjungan ke Jokowi), ini kan go show, spontanitas saja," tuturnya, seperti dikutip dari YouTube KompasTV.

Ia menjelaskan, jadwal untuk bertemu dengan mantan presiden itu baru ia dapatkan saat sedang berada di Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, untuk agenda lain. Menurut Afriansyah, ia sempat khawatir Jokowi akan sibuk, namun akhirnya mendapat konfirmasi bisa bertemu pada pukul 11.30 WIB.

Analisis Pengamat: Tidak Mungkin Spontan

Klaim spontanitas dari Wasekjen Demokrat itu tidak serta-merta dipercaya oleh pengamat politik. Adi Prayitno, salah satu pengamat yang diwawancarai, meyakini pasti telah terjadi komunikasi sebelumnya sebelum pertemuan itu terlaksana.

"Tidak ada pertemuan yang disebut secara spontanitas, karena apapun judulnya Pak Afriansyah itu adalah Wasekjen Demokrat dan Pak Jokowi adalah mantan Presiden yang tingkat kesibukannya juga di atas rata-rata," urai Adi dalam wawancara bersama KompasTV.

"Bagi saya, ini pertemuan (Jokowi dan Afriansyah) tidak lagi dalam ruang hampa, tidak ujug-ujug dan pastinya sudah ada komunikasi," imbuhnya.

Maksud Politik di Balik Silaturahmi

Lebih jauh, Adi Prayitno membaca pertemuan tersebut mengandung setidaknya dua pesan politik penting. Pertama, untuk menegaskan bahwa Partai Demokrat tidak memiliki kaitan dengan polemik seputar ijazah Jokowi yang sempat ramai diperbincangkan.

"Satu hal yang pasti bahwa pertemuan-pertemuan elit kunci semacam ini memang dikesankan hanya sebatas nostalgia dan spontanitas. Tapi di belakang layar pasti ada pesan-pesan yang tersirat. Yaitu adalah soal sebenarnya Partai Demokrat tidak ada hubungannya dengan polemik-polemik ijazah," ungkapnya.

Kedua, lanjut Adi, pertemuan itu berfungsi untuk meredakan tensi dan persepsi publik tentang rivalitas yang tak berkesudahan antara Demokrat dan Jokowi. Ia menilai penting bagi Partai Demokrat untuk segera memberikan pernyataan resmi guna menghentikan spekulasi yang bermunculan.

Penegasan dari Afriansyah Noor

Sebelumnya, Afriansyah sendiri telah memberikan penjelasan mengenai suasana pertemuan tersebut. Ia menyebut nuansa pertemuan lebih kepada nostalgia dan diskusi ringan tentang kondisi nasional, termasuk dukungan terhadap kelancaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Jadi ini nostalgia. Sekaligus kami berdiskusi hal-hal kecil. Dan tentunya ke depan pemerintahan Bapak Prabowo dan Mas Gibran sebagai wakil presiden ini bisa berjalan mulus sampai 2029. Kami dari kabinet Pak Prabowo-Gibran fokus bekerja,” ujar Afriansyah.

Dalam kapasitasnya sebagai Wamenaker, ia menegaskan fokus kerjanya adalah menyelesaikan persoalan strategis di bidang ketenagakerjaan, seperti upah buruh, profesionalisme, dan kesejahteraan melalui BPJS Ketenagakerjaan.

Demokrat dan Polemik Ijazah

Secara khusus, Afriansyah dengan tegas memisahkan partainya dari segala bentuk polemik terkait ijazah Jokowi. Ia menegaskan isu tersebut sama sekali tidak dibahas dalam pertemuannya dengan Jokowi.

“Kalau soal ijazah, saya tidak bersinggungan sama sekali karena saya tahu persis. Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi selama berproses dalam politik hingga menjadi presiden sudah melalui tahapan-tahapan yang sah,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter Partai Demokrat di bawah kepemimpinan SBY dan AHY bukanlah karakter yang suka membuat fitnah atau tuduhan tanpa dasar.

Pesan Persatuan dan Salam untuk Petinggi Demokrat

Afriansyah juga menyampaikan bahwa Jokowi menitipkan salam untuk SBY dan AHY. Mantan presiden tersebut disebut menekankan pentingnya persatuan seluruh tokoh bangsa untuk membangun Indonesia yang lebih kuat dan sejahtera.

"Harapan beliau, dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, sekitar 280 juta jiwa, kita harus bersama-sama membangun bangsa. Seluruh tokoh bangsa perlu bersatu untuk membuat negara ini lebih kuat, sejahtera, dan mantap,” pungkas Afriansyah, menutup penjelasan mengenai pertemuan yang terus jadi perbincangan hangat itu.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar