PARADAPOS.COM - PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), anak usaha PT ABM Investama Tbk. (ABMM), menyiapkan strategi kolaborasi lintas sektor dan digitalisasi rantai pasok untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta ketegangan geopolitik yang mengancam arus perdagangan internasional. Langkah ini diumumkan menyusul dinamika geopolitik yang dinilai telah meningkatkan volatilitas jalur perdagangan dan berdampak langsung pada kelancaran distribusi. Perusahaan pun menggelar CKB Supply Chain Forum 2026 sebagai wadah sinergi antara pelaku industri, regulator, dan akademisi.
Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Ketidakpastian Global
Direktur CKB Logistics, Iman Sjafei, menekankan bahwa kondisi saat ini tidak bisa dihadapi sendiri oleh satu perusahaan. Menurutnya, dibutuhkan sinergi yang kuat antar pelaku industri, regulator, hingga kalangan akademisi untuk merumuskan solusi logistik yang tangguh.
"Ketegangan geopolitik dunia telah menciptakan hambatan nyata. Kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi. Sinergi ini mutlak diperlukan agar kita dapat memitigasi risiko, menghadapi berbagai skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi tetap berputar lancar," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (28/6/2026).
Forum yang digelar bertajuk CKB Supply Chain Forum 2026 ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Iman berharap forum ini bisa berkembang menjadi ekosistem kolaboratif yang menyelaraskan strategi bisnis dengan regulasi kepabeanan sekaligus mendorong inovasi rantai pasok yang lebih adaptif.
"Perpaduan keahlian akademis SCI, kebijakan otoritas Bea Cukai, serta kapabilitas operasional andal dari CKB Logistics menjadikan ajang ini lebih dari sekadar tempat berdiskusi. Forum ini mampu menjadi katalisator utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berubah," katanya.
Transformasi Strategi: dari Efisiensi ke Ketangguhan
Sementara itu, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, mengungkapkan bahwa pendekatan lama yang hanya berfokus pada efisiensi biaya sudah tidak lagi memadai. Kini, strategi pengelolaan rantai pasok harus bertransformasi menjadi berbasis ketangguhan atau "resilience-driven".
Menurut Ety, ketahanan rantai pasok bukan berarti menghilangkan seluruh potensi gangguan. Justru, yang lebih penting adalah membangun jaringan operasional yang fleksibel sehingga proses pemulihan bisnis bisa berlangsung lebih cepat saat krisis terjadi.
""Resilience-driven" tidak dicapai dengan hanya menghindari gangguan secara mutlak saja, melainkan melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik. Tujuannya agar pemulihan bisnis dapat berjalan jauh lebih cepat atau "recover faster" saat krisis terjadi," jelasnya.
Ety menambahkan, perusahaan perlu menerapkan manajemen risiko rantai pasok secara menyeluruh melalui lima pilar utama. Kelima pilar itu meliputi tata kelola risiko ("risk governance"), visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan ("continuous improvement").
Implementasi strategi tersebut, lanjutnya, dilakukan melalui pemetaan risiko dari hulu hingga hilir ("end-to-end"), penyusunan SOP kontingensi yang adaptif, penyediaan jalur distribusi alternatif, hingga pemanfaatan teknologi Digital Control Tower untuk meningkatkan visibilitas operasional secara "real time".
Pandangan Pakar: Deteksi Dini dan Respons Cepat
Pandangan serupa datang dari Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi. Menurutnya, rantai pasok yang tangguh bukan berarti bebas dari gangguan, melainkan mampu mendeteksi risiko lebih dini, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak seminimal mungkin.
""Supply chain" yang tangguh bukan "supply chain" yang tidak pernah mengalami gangguan, tetapi yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin," ujarnya.
Setijadi juga menekankan bahwa penerapan "digital control tower" tidak cukup hanya berupa "dashboard" pemantauan. Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut harus menjadi "operating model" yang mengintegrasikan data, proses bisnis, sumber daya manusia, tata kelola, hingga pengambilan keputusan secara cepat.
Di tengah berbagai tantangan global, prospek industri logistik nasional masih dinilai positif. Berdasarkan proyeksi Supply Chain Indonesia, kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan mencapai Rp1.500 triliun pada akhir 2025. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp1.700 triliun pada 2026.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kolombia dan Portugal Imbang Tanpa Gol, Sama-Sama Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Ratusan Lansia Antre Sejak Subuh di Bundaran HI demi Kartu Layanan Gratis TransJakarta
Pemerintah Pastikan Pembangunan Jalur Kereta Logistik Kalimantan Dibiayai Investor Swasta, Bukan APBN
Gerindra: Mayoritas Masyarakat Masih Puas dengan Kinerja Prabowo di Tengah Tekanan Ekonomi Global