Presiden Ultimatum Pejabat dan Intelektual: Pilih Bela Rakyat atau Tinggalkan Pemerintahan

- Rabu, 29 April 2026 | 14:50 WIB
Presiden Ultimatum Pejabat dan Intelektual: Pilih Bela Rakyat atau Tinggalkan Pemerintahan

PARADAPOS.COM - Presiden RI memberikan ultimatum tegas kepada para pejabat dan intelektual yang dianggap kurang memiliki jiwa patriotisme. Dalam sambutannya di acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026), Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintahannya hanya akan diisi oleh individu yang pro terhadap kepentingan rakyat kecil. Mereka yang tidak sejalan dengan visi tersebut diminta untuk segera mundur atau mencari tempat lain.

Suasana di lokasi acara tampak khidmat saat Presiden menyampaikan pernyataan tersebut di hadapan para pejabat dan tamu undangan. Dengan nada tegas, ia menekankan bahwa tidak ada toleransi bagi mereka yang tidak memiliki loyalitas terhadap bangsa sendiri.

"Pilih, bela rakyatmu atau pilih mengabdi ke yang lain. Saya tidak akan toleransi mereka-mereka yang tidak patriotik. Sepintar apapun kau, kalau kau tidak bela bangsamu sendiri, tidak ada tempat di sekitar saya, carilah orang lain," ujar Presiden dalam sambutannya.

Kepandaian untuk Bangsa, Bukan untuk Asing

Presiden menegaskan bahwa kecerdasan yang dimiliki para ilmuwan dan teknokrat semestinya diabdikan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. Ia memperingatkan agar kepandaian tersebut tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang justru merugikan negara sendiri.

"Jangan kepandaian itu kau pakai untuk memperkaya bangsa lain. Kita tidak benci bangsa lain, kita tidak mau rakyat kita miskin terus karena uang kita diambil ke luar negeri. Kalau saudara mau, silakan. Jangan ikut pemerintah yang saya pimpin," tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong para intelektual untuk menjadi "Profesor Merah Putih" yang berdiri di garda terdepan membela rakyat. Ia juga mengecam keras praktik penggunaan kepandaian untuk menutupi korupsi dan perampokan uang negara.

Respons terhadap Skeptisisme dan Ancaman "Kabur"

Menariknya, Presiden juga menyempatkan diri merespons pihak-pihak yang skeptis terhadap kondisi Indonesia. Bahkan, ia menanggapi mereka yang berniat meninggalkan tanah air karena menganggap situasi nasional sudah tidak ideal.

"Ada yang mau kabur. Kabur aja. Kau kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan. Mau kabur ke mana? Hei orang-orang pintar bukalah berita, lihatlah, kita ditempatkan sebagai negara yang paling aman di dunia, sekarang," katanya dengan nada yang tajam namun tetap terkontrol.

Menurut Presiden, pemerintahannya hanya ingin bekerja untuk rakyat. Individu yang tidak memiliki visi yang sama dipersilakan untuk tidak bergabung agar tidak menimbulkan kegaduhan di internal pemerintahan.

Hilirisasi: Evaluasi Objektif dan Keberanian Mengubah Rencana

Dalam kesempatan yang sama, Presiden menegaskan pentingnya pengembangan proyek hilirisasi nasional. Ia menekankan bahwa proyek-proyek strategis ini harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan berorientasi penuh pada kepentingan rakyat.

"Saya minta kita objektif dan kita bersifat saintifik. Kita hitung secara matematik. Kalau proyek ini, walaupun kita canangkan dan kita adakan feasibility study, mulai satu tahun yang lalu, enam bulan yang lalu, kalau hari ini terjadi perkembangan teknologi, kita bisa mendapat teknologi yang lebih bagus, teknologi yang lebih murah, menghasilkan sesuatu yang lebih untung bagi rakyat, kita harus berani mengubah rencana," ucapnya.

Presiden juga menginstruksikan Satgas Hilirisasi dan BPI Danantara untuk terus mengkaji pilihan teknologi terbaik. Prinsip efisiensi dan manfaat maksimal bagi masyarakat harus menjadi prioritas utama.

"Kaji terus teknologi, lihat. Matematis, matematis, matematis. Tidak ada kepentingan lain. Yang paling efisien, menguntungkan rakyat, itu yang harus dijalankan," jelasnya.

Optimisme dan Seruan Persatuan

Di penghujung sambutannya, Presiden menyampaikan optimisme yang besar terhadap masa depan Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan menjaga arah pembangunan nasional, terutama melalui penguatan hilirisasi sebagai pilar kemandirian ekonomi.

"Kita harus menjadi raksasa yang tidak tidur. Kita harus jadi raksasa yang bangun. Dan kita akan bangun. Kita akan menjadi negara yang hebat," ujarnya penuh semangat.

Ia juga berpesan tentang pentingnya persatuan di tengah keberagaman. Menurutnya, perbedaan harus menjadi kekayaan yang memperkuat, bukan justru menjadi pemecah belah.

“Perbedaan adalah baik, perbedaan adalah kekayaan, perbedaan jangan kita biarkan menjadi sekat-sekat. Kekurangan kita saling tutup. Kesalahan kita saling ingatkan. Kelalaian segera kita koreksi. Semua tujuannya adalah kebaikan bangsa," tuturnya.

Mengakhiri pidatonya, Presiden mengingatkan bahwa stabilitas dan perdamaian merupakan fondasi yang sangat mahal dan penting bagi kemajuan bangsa, terutama di tengah dinamika global yang penuh tantangan. "Perdamaian sangat mahal. Kita jaga bangsa kita," pungkasnya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar