Nilai Keekonomian Pertalite Tembus Rp16.088, Pakar ITB Sebut Anomali Harga BBM adalah Strategi Bisnis

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 21:50 WIB
Nilai Keekonomian Pertalite Tembus Rp16.088, Pakar ITB Sebut Anomali Harga BBM adalah Strategi Bisnis
PARADAPOS.COM - Perdebatan soal harga bahan bakar minyak (BBM) kembali memanas di Indonesia. Kali ini, nilai keekonomian Pertalite (RON 90) yang disebut-sebut mencapai Rp16.088 per liter menjadi sorotan, terutama karena angka tersebut lebih tinggi dari harga jual Pertamax (RON 92) yang berada di kisaran Rp12.300 per liter. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat: mengapa BBM dengan kualitas oktan lebih tinggi justru dijual lebih murah? Isu ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah beredarnya video konsumen yang mempertanyakan kejanggalan harga tersebut. Pakar bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pun angkat bicara, mengungkapkan bahwa di balik angka-angka itu terdapat strategi bisnis yang terencana.

Kejanggalan Harga di Mata Publik

Diskusi mengenai harga BBM ini mencuat tajam setelah unggahan di media sosial memperlihatkan seorang konsumen yang bingung melihat perbandingan harga. Secara logika, Pertamax yang memiliki Research Octane Number (RON) lebih tinggi seharusnya dibanderol dengan harga yang lebih mahal dibandingkan Pertalite. Namun, kenyataan di lapangan justru berkata lain. Nilai keekonomian Pertalite yang disebut lebih mahal dari harga jual Pertamax menimbulkan tanda tanya besar, terutama bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

Penjelasan Pakar ITB: Bukan Sekadar Angka

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini. Menurutnya, secara keekonomian, selisih harga antara BBM RON 90, RON 92, hingga RON 95 sebenarnya tidak terlalu jauh. Ia membandingkan kondisi di Indonesia dengan pasar luar negeri, seperti Singapura, yang memiliki rentang harga yang sangat tipis antarjenis BBM. “Itu adalah strategi bisnis supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax,” ungkap Tri, saat dikonfirmasi pada Kamis, 7 Mei 2026. Ia menilai, anomali harga ini sengaja diciptakan sebagai bagian dari strategi bisnis yang lebih besar. Tujuannya adalah untuk mendorong perpindahan konsumen dari BBM subsidi ke BBM nonsubsidi. Langkah ini dinilai berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah yang mulai membatasi pembelian BBM subsidi melalui sistem barcode untuk kendaraan tertentu.

Strategi Bisnis di Balik Subsidi Internal

Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa harga Pertamax yang saat ini berada di kisaran Rp12 ribuan bukanlah harga murni tanpa intervensi. Pertamax dijual dengan skema subsidi internal dari Pertamina, berbeda dengan Pertalite yang mendapatkan subsidi langsung dari pemerintah. Skema ini, menurutnya, menjadi salah satu cara untuk menekan beban subsidi negara sekaligus mengarahkan konsumen kelas menengah ke atas untuk beralih ke BBM nonsubsidi. “Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat,” ujarnya. Dengan harga Pertamax yang lebih kompetitif, masyarakat diharapkan mulai mempertimbangkan penggunaan BBM dengan kualitas lebih tinggi. Selain lebih sesuai untuk mesin kendaraan modern, langkah ini juga dinilai dapat membantu mengurangi beban keuangan negara.

Subsidi yang Tersasar

Tri juga menyoroti persoalan klasik dalam penyaluran subsidi BBM di Indonesia. Ia menilai, subsidi yang melekat pada komoditas (barang) membuat BBM bersubsidi tetap mudah diakses oleh masyarakat mampu. Idealnya, subsidi diberikan langsung kepada individu yang berhak, bukan ditempelkan pada produk. “Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang,” tegasnya. Pernyataan ini kembali membuka diskusi mengenai efektivitas kebijakan subsidi energi yang selama ini berjalan. Meskipun bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu, kenyataannya subsidi BBM seringkali dinikmati oleh golongan ekonomi menengah ke atas.

Dampak bagi Masyarakat dan Harapan ke Depan

Perdebatan soal harga BBM ini bukanlah sekadar wacana di permukaan. Bagi masyarakat, harga BBM berpengaruh langsung terhadap biaya transportasi harian dan pengeluaran rumah tangga. Di media sosial, banyak pengguna yang mempertanyakan transparansi perhitungan harga BBM, terutama setelah munculnya angka nilai keekonomian Pertalite yang dianggap janggal. Sementara itu, data konsumsi BBM nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Pertalite masih menjadi primadona. Faktor harga yang lebih terjangkau membuat BBM beroktan 90 ini tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian besar pengguna kendaraan di Indonesia. Pemerintah dan Pertamina pun terus berupaya mendorong penggunaan BBM berkualitas lebih baik, tidak hanya untuk menekan emisi kendaraan, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi mesin. Namun, jalan menuju perpindahan massal itu masih panjang, terutama jika persoalan harga dan subsidi belum sepenuhnya tuntas.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar