Studi Ungkap Praktik Homoseksual Meluas di Kalangan Tentara Australia pada Perang Dunia II

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:50 WIB
Studi Ungkap Praktik Homoseksual Meluas di Kalangan Tentara Australia pada Perang Dunia II

PARADAPOS.COM - Perang Dunia II identik dengan kisah heroisme dan keberanian tentara pria Australia yang bertempur di Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Papua Nugini. Namun, di balik narasi maskulinitas yang kental, terdapat realitas yang jarang terungkap: praktik dan hasrat seksual sesama jenis yang cukup meluas di kalangan pasukan. Sebuah analisis dalam Australian Army Journal (Volume 10, Nomor 3, Edisi Budaya) bahkan menyebut Tentara Australia saat itu sebagai "a homosexual institution" – sebuah institusi homoseksual – menurut pengamatan langsung seniman perang Donald Friend. Temuan ini membuka tabir gelap sejarah yang selama ini sengaja dilupakan.

Mitos “Tidak Ada Homo di Perang” Mulai Runtuh

Pada tahun 1982, Bruce Ruxton, Presiden Returned and Services League Victoria, dengan tegas menolak kehadiran kelompok Gay Ex-servicemen’s Association dalam upacara Anzac Day. "Saya tidak ingat ada satu pun poofter (homo) dari Perang Dunia II," ujarnya kala itu. Pandangan serupa juga datang dari rekan-rekannya yang bersikukuh bahwa pasukan mereka "sepenuhnya heteroseksual." Sejarah resmi Angkatan Darat Australia pun mencatat homoseksualitas sebagai hal yang "tidak signifikan" dan tidak berkontribusi pada upaya perang total.

Namun, arsip militer, catatan harian, memoar, dan surat-surat pribadi para prajurit justru menceritakan kisah yang berbeda. Hasrat sesama jenis bukanlah peristiwa langka, melainkan bagian dari denyut nadi kehidupan sehari-hari di lingkungan tentara yang seluruhnya laki-laki. Terisolasi dari perempuan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, realitas ini menjadi tak terelakkan.

Lingkungan yang Memungkinkan: Segregasi dan Ketidakpastian Perang

Hidup dalam kondisi all-male yang ekstrem, tentara Australia di WWII ditempatkan jauh dari rumah tanpa akses terhadap perempuan. Tekanan perang yang konstan menciptakan ruang bagi apa yang disebut para ahli sebagai "homoseksualitas situasional." Fenomena ini melibatkan pria heteroseksual yang biasanya tidak melakukan hubungan sesama jenis di kehidupan sipil, namun melakukannya karena "tidak ada perempuan."

Seorang veteran bernama John O’Donnell menulis dalam memoarnya bahwa banyak prajurit berkata: "Kami bukan camp (gay), kami hanya melakukannya karena tidak ada perempuan. Kalau kamu setuju, tidak ada yang jadi poofter, semua terlindungi." Praktik ini tersebar luas, mulai dari kamp pelatihan, markas di Darwin, hingga garis depan di Papua Nugini. Di Darwin, setelah serangan udara, terdapat "beat" (tempat cruising) di sepanjang jalan utama. Kontak mata dan sapaan sederhana sudah cukup untuk menemukan pasangan.

Subkultur “Kamp” dan Kehidupan yang Penuh Kenikmatan

Di tengah risiko hukuman, sekelompok kecil pria gay—yang sering disebut "kamp men" atau pria effeminate—berhasil membangun subkultur yang penuh kegembiraan. Mereka menggunakan nama samaran seperti "Phyllis," dengan alis dicukur, suara camp, dan gerak tubuh feminin. Ada pula "Mata Hari" yang dikabarkan berhubungan seks dengan sekitar 300 pria. Catatan harian Donald Friend menggambarkan kehidupan ini dengan detail yang hidup: pesta pantai, piknik, dan pertemuan di truk-truk militer.

Menariknya, bukan hanya pria gay yang terlibat. Banyak prajurit "straight" ikut serta dalam hubungan sesama jenis, termasuk seks kelompok di pantai atau di dalam truk. Seorang prajurit dengan nama samaran "John" dari RAAF memperkirakan ada ratusan pria gay di Northern Territory saja. Di unit kecilnya, ia mengenal 14 orang gay di antara 200 prajurit.

Respons Militer: Antara Pengampunan dan Hukuman Berat

Pimpinan militer menyadari fenomena ini. Pada 1943, investigasi Amerika Serikat di Papua Nugini menemukan tentara Australia yang "bermain peran perempuan" dalam hubungan homoseksual. Markas Besar Angkatan Darat Australia kemudian memerintahkan laporan dan tindakan tegas.

Hukuman resmi yang tercatat cukup berat. Sodomi berdasarkan Pasal 41 Army Act diancam dengan hukuman penjara seumur hidup. Perilaku memalukan (Pasal 18(5)) bisa berujung pada 2 tahun penjara, begitu pula tindakan merusak disiplin (Pasal 40). Salah satu contoh paling dramatis adalah upacara cashiering—pemecatan kehormatan—di mana seorang perwira yang dihukum karena buggery diarak di hadapan pasukan, pangkatnya dicabut di depan umum, dan genderang dipukul. Korban sering pingsan karena malu.

Namun dalam praktiknya, banyak komandan yang lebih memilih pemecatan medis daripada pengadilan militer. Mayor Jenderal Sir Roy Burston merekomendasikan pemeriksaan psikiater bagi mereka yang "kecanduan praktik homoseksual." Jika terbukti, mereka dibebastugaskan tanpa hukuman pidana. Tujuannya jelas: menghindari publisitas dan mencegah prajurit sengaja "bermain homo" hanya untuk lolos dari tugas di daerah terpencil.

Dampak terhadap Moral dan Disiplin Pasukan

Meski ada perundungan terhadap pria effeminate—yang sering disebut "queen" atau "sissy"—banyak komandan melaporkan bahwa kasus homoseksualitas tidak terlalu mengganggu disiplin. Bahkan, subkultur ini kadang meningkatkan semangat karena memberikan hiburan dan keintiman di tengah kengerian perang. Novel The Rats in New Guinea karya Lawson Glassop menggambarkan ketakutan akan "queen" di satu seksi, namun juga menunjukkan toleransi diam-diam selama tidak mengganggu tugas.

Relevansi di Era Modern

Kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah militer Australia bukanlah narasi hitam-putih tentang maskulinitas heteroseksual semata. Hasrat sesama jenis adalah bagian nyata dari pengalaman perang—baik sebagai sumber kesenangan, ketakutan, maupun strategi bertahan hidup. Di era modern, Angkatan Darat Australia telah berubah secara signifikan. Kini, mereka mendukung jaringan LGBTI, ikut serta dalam pawai Mardi Gras, dan secara resmi mengakui identitas transgender di kalangan personel.

Mitos "tidak ada homo di Perang Dunia II" akhirnya runtuh berkat catatan-catatan pribadi dan arsip yang kini terbuka untuk publik. Seperti yang pernah dikatakan seorang dokter veteran dalam surat balasannya kepada Ruxton, homoseksualitas memang ada, meski dalam jumlah kecil, dan mereka juga berperang untuk negara. Perang tidak hanya membentuk pahlawan, tetapi juga mengungkap keragaman manusia yang selama ini sengaja disembunyikan.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar