PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak merasa khawatir terhadap potensi krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998, meskipun nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan di tengah gejolak nilai tukar yang diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS dengan volatilitas tinggi pada Jumat, 22 Mei 2026. Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis moneter 1998, dan tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi pasar, bukan faktor fundamental.
Fundamental Ekonomi Dinilai Lebih Kuat
Dalam keterangannya di Istana, Jumat, 22 Mei 2026, Purbaya membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah sekarang hanya sekitar 4-5 persen, jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan drastis yang terjadi pada masa lalu.
"Tidak (khawatir balik ke masa krisis). Sebetulnya fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari 2000 melemah ke sekian, Rp17rb kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh," kata Purbaya di Istana, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menambahkan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi pasar ketimbang faktor fundamental ekonomi. Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran publik yang masih membayangi ingatan akan krisis moneter dua dekade lalu.
Tekanan Eksternal Bertubi-tubi
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini menghadapi berbagai tekanan eksternal yang datang secara beruntun. Mulai dari indeks MSCI, lembaga pemeringkat, hingga pergerakan nilai tukar.
"Dan mereka juga bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan ke nilai tukar," ucapnya.
Meski demikian, Purbaya memastikan kondisi fundamental ekonomi nasional tetap kuat. Ia menekankan bahwa para pelaku pasar pun sebenarnya mengakui hal tersebut.
"Kalau kita lihat sekarang kan serangan bertubi-tubi ke kita. MSCI, habis itu lembaga pemeringkat, habis itu pergerakan nilai tukar. Tapi kalau dari fundamental sih nggak ada masalah, mereka setuju," jelasnya.
Pelemahan Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah sebesar 0,40% ke level Rp17.670 pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS ini sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya.
Yen Jepang terhadap dolar AS juga melemah 0,11%, yuan China mengalami pelemahan 0,01%, dolar Singapura melemah 0,20%, dan won Korea melemah 0,51%. Dolar Hong Kong terhadap dolar AS juga melemah 0,01%, peso Filipina melemah 0,11%, serta baht Thailand melemah 0,34%.
Sementara itu, Dolar Taiwan justru menguat 0,18%, rupee India turun sebesar 0,13%, dan ringgit Malaysia mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,03%. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari dinamika regional yang lebih luas.
Artikel Terkait
Hotman Paris Kritik Menteri Pigai soal Penolakan Tembak Begal: Jangan Ragu Tindak Tegas
Polri Resmi Luncurkan SIM Digital, Pengendara Cukup Tunjukkan Lewat Ponsel
Momen Salah Ucap Prabowo soal Gaji Hakim dan Guru Picu Reaksi Polos Anak SD yang Viral
Pemadaman Listrik Massal di Sumatera Berangsur Pulih, Gangguan Transmisi di Jambi Jadi Penyebab