'Arah Pidato Prabowo Itu, Sesungguhnya Untuk Siapa?'
Oleh: Ali Syarief
Akademisi
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam acara silaturahmi Koalisi Indonesia Maju (KIM) di Hambalang pada 14 Februari 2025 menarik perhatian publik.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa mereka yang ingin mengabdi kepada bangsa harus mengesampingkan kepentingan pribadi serta menanggalkan dendam dan kebencian.
Pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar: kepada siapa sebenarnya pesan ini ditujukan?
Apakah ini sindiran halus kepada Presiden Jokowi yang dinilai lebih mementingkan kepentingan pribadi melalui Prabowo?
Atau justru kepada kelompok yang menginginkan adanya jarak antara Prabowo dan Jokowi tanpa kejelasan siapa mereka sebenarnya?
Menampar Jokowi?
Sejak bergabungnya Prabowo dalam kabinet Jokowi pada 2019, banyak pihak menilai bahwa keputusan tersebut lebih menguntungkan Jokowi secara politik dibandingkan Prabowo.
Jokowi dianggap menggunakan pengaruhnya untuk mengamankan kepentingan politik dan keluarganya melalui Prabowo.
Kini, dengan pidato Prabowo yang menekankan kepemimpinan tanpa dendam dan benci, muncul spekulasi bahwa ini adalah bentuk pernyataan mandiri dari Prabowo, sebuah sinyal bahwa ia tidak lagi ingin menjadi sekadar alat politik Jokowi.
Dalam pemerintahan Jokowi, kebijakan-kebijakan strategis sering kali dikaitkan dengan kepentingan politik dinasti.
Dengan semakin dekatnya Prabowo ke tampuk kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia, pesan bahwa kepemimpinan harus mengutamakan kepentingan rakyat bisa saja dimaksudkan sebagai kritik terselubung terhadap praktik politik Jokowi.
Artikel Terkait
Adly Fairuz Diduga Tipu Calon Taruna Akpol Rp 3,6 Miliar: Modus Jenderal Palsu & Kronologi Lengkap
Profil Eny Retno, Istri Gus Yaqut: 21 Tahun Setia & Latar Belakang IPB
Korupsi Tambang & Sawit Rugikan Negara Rp186,48 Triliun, Pemerintah Gunakan AI
Ustaz Abdul Somad Unggah Penolakan Ceramah oleh Ansor, Bertepatan Gus Yaqut Jadi Tersangka Korupsi Haji