Desakan pencopotan Gibran Rakabuming Raka dari kursi Wakil Presiden Indonesia diyakini cukup memberi efek kejut namun masih sulit untuk direalisasikan.
"Posisi Gibran sulit digoyang selama dia tidak berbuat kesalahan fatal," kata pengamat politik dari Motion Cipta (MC) Matrix, Wildan Hakim saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu, 4 Mei 2025.
Menurut Wildan, Wapres Gibran cukup berhati-hati dalam bermanuver mendampingi Presiden Prabowo Subianto di pemerintahan 2024-2029.
"Gibran sepertinya mengikuti arahan bapaknya, Jokowi, yang meminta tidak kemajon. Tidak mendahului Presiden Prabowo," sambung Wildan.
Dengan prinsip tidak mendahului Prabowo itu, peran yang dijalankan Gibran selaku Wapres pada akhirnya tidak akan lebih berdampak dibanding apa yang ditampilkan Presiden.
"Selaku Wapres, Gibran memahami betul visi dan misinya mengikuti apa yang sudah ditetapkan Prabowo. Pada akhirnya, kehadiran anak muda seperti Gibran di pucuk pemerintahan sebatas konvergensi simbolik di Pilpres 2024," jelas Wildan.
Meski terbilang aman di kursi Wapres, dampak lain dari prinsip tidak kemajon membuat kapasitas Gibran tidak terlihat dalam merespons dinamika geopolitik saat ini.
"Berbeda sekali jika (Gibran) dibandingkan dengan Jusuf Kalla dan Kiai Maruf Amin. Jusuf Kalla dulu dikenal piawai mengomentari isu-isu ekonomi dan terlibat dalam perumusan kebijakan ekonomi. Sementara Kiai Maruf banyak menyoroti isu soal umat, sosial, dan keagamaan," pungkasnya.
Sumber: rmol
Foto: Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka/tangkapan layar
Artikel Terkait
BRIN Gunakan Template Berbayar untuk Desain Poster Hari Pancasila, Jumlah Bulu Garuda Kembali Salah
Pesawat Angkut Militer AS Terpantau Lakukan Manuver di Perairan Barat Padang
Mantan Caleg di Cirebon Ditangkap, Ancam dan Rekam Kakek Lansia untuk Konten Asusila
Polda Jateng Bongkar Jaringan Penipuan Internasional di Solo, Libatkan Mantan Artis sebagai Model Video Call