Menurut dia, mereka memiliki kemampuan membentuk opini yang akan merugikan dan merusak citra Prabowo sebagai presiden. Selanjutnya, perihal komunikasi.
"Adanya kelompok kecil di sekeliling Prabowo yang memagari dan menghalanginya untuk berkomunukasi dan dekat dengan rakyat sehingga kepemimpinan Prabowo terkesan elitis," papar Buya Anwar.
Persoalan-persoalan lainnya berkaitan dengan adanya kesenjangan antara kata dan perbuatan.
Alhasil, menurut Buya Anwar, timbul kesan di tengah rakyat bahwa apa-apa yang dikatakan Prabowo hanya "omon-omon" belaka.
Kemudian, kehadiran para menteri dan wakil menteri dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto yang merupakan "titipan" dari pihak-pihak tertentu.
Buya Anwar mengatakan, hal itu berimbas pada kesetian mereka bukan kepada Presiden, tetapi para bohirnya.
"Lalu, mentalitas dari para penegak hukum yang tidak lagi berorientasi kepada kebenaran dan keadilan. tapi kepada pesanan dan tekanan. Terakhir, banyaknya janji-janji Prabowo yang sangat sulit diwujudkan karena keterbatasan dana dan anggaran," ucap Buya Anwar.
Waketum MUI menilai, jika Prabowo tidak bisa mengelola dan mengatasi semua masalah itu dengan baik, maka rasa percaya (trust) rakyat terhadap sang presiden RI tentu akan melorot.
Bila itu yang terjadi, tentu kepemimpinan Presiden Prabowo akan bermasalah.
"Kita tentu saja tidak mau hal itu terjadi," tukas dia.
Sumber: Republika
Artikel Terkait
Polisi Tabrak 4 Motor di Asahan dan Kabur Dikejar Massa: Kronologi Lengkap
Ressa Rizky Rossano Gugat Denada: Klaim Anak Kandung & Tuntut Ganti Rugi Miliaran Atas Penelantaran
Eggi Sudjana dan Fenomena Pengkhianatan Politik: Analisis Sejarah & Karakter Bangsa
Viral Petugas Kemenhub Dituding Pungli Rp150 Ribu ke Mobil Bantuan Aceh, Ini Fakta dan Bantahannya