Mengurai Isu Pembiayaan dan Dugaan Mark Up Hutang Kereta Cepat Whoosh
Pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCIC) atau Whoosh kembali menjadi sorotan. Kebijakan pemerintah untuk tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam membayar hutang proyek ini dikabarkan menimbulkan kekhawatiran di kalangan tertentu. Skema pembayaran yang awalnya Business to Business (B to B) dengan China disebut bergeser.
PT BPI Danantara, sebagai holding BUMN, ditunjuk untuk menangani penyelesaian kewajiban hutang KCIC yang dilaporkan mencapai Rp 116 triliun. Penunjukan ini menuai beragam tanggapan dari para pengamat.
Analisis Pengamat: Indikasi Mark Up dan Risiko Bangkrut
Seorang analis kebijakan publik, Agus Pambagio, menyatakan bahwa ide kerja sama Whoosh dengan skema hutang ke China berasal dari mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sementara itu, ekonom Anthoni Budiawan memberikan pandangan bahwa proyek ini terindikasi mengalami mark up yang signifikan.
Anthoni memperingatkan, beban hutang yang berat berpotensi membawa Whoosh pada kebangkrutan. Jika hal itu terjadi, terdapat kemungkinan proyek ini akan diambil alih atau dikendalikan sepenuhnya oleh pihak China. Ia menegaskan bahwa Jokowi sebagai pemrakarsa harus bertanggung jawab dan diduga kuat merupakan bagian dari pihak yang menikmati dana mark up tersebut.
Tanggapan Pihak Terkait dan Desakan untuk Penegakan Hukum
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi periode lalu, Luhut Binsar Pandjaitan, yang kerap disebut sebagai motor proyek ini, menyikapi isu ini dengan menyatakan bahwa ini adalah persoalan restrukturisasi hutang dengan China Development Bank (CDB). Ia mengusulkan penerbitan Keppres untuk membentuk tim perunding dan menyebut pihak China telah bersedia bernegosiasi.
Di sisi lain, muncul desakan agar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut tuntas dugaan mark up ini. Isu Whoosh disebut sebagai salah satu dari sejumlah proyek yang perlu diinvestigasi, bersama proyek strategis nasional, dana BTS, dan lainnya.
Artikel asli selengkapnya dapat dibaca di: https://m-rizal-fadillah.blogspot.com/2025/10/ini-cara-geng-mulyono-ngembat-duit.html
Artikel Terkait
Prabowo Peringatkan Keras Budaya Asal Bapak Senang di Birokrasi
Video Viral Intimidasi di Kos Medan, Klaim Ancaman dan Pencurian Tak Terbukti
Putri Akbar Tandjung, Karmia Krissanty, Meninggal Dunia
Teknologi Video Face Swap AI: Dari Hiburan Viral hingga Tantangan Etika