Mojtaba Khamenei Naik, Trump Tolak, Harga Minyak Tembus US$110

- Selasa, 10 Maret 2026 | 22:50 WIB
Mojtaba Khamenei Naik, Trump Tolak, Harga Minyak Tembus US$110

PARADAPOS.COM - Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, menggantikan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang telah wafat. Suksesi ini mengukuhkan kendali faksi garis keras dalam pemerintahan Teheran, meredam harapan komunitas internasional akan perubahan kebijakan luar negeri Iran. Langsung setelah pengumuman, Presiden AS Donald Trump menolak figur baru tersebut, memperkeruh prospek perdamaian di Timur Tengah dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia melampaui US$110 per barel.

Reaksi Global dan Dampak Langsung di Pasar

Pernyataan penolakan dari Gedung Putih datang hampir bersamaan dengan pengumuman suksesi. Sikap tegas Washington ini langsung menambah lapisan ketidakpastian baru di kawasan yang sudah memanas, sekaligus mengirim sinyal ke pasar komoditas global.

“Mojtaba adalah figur yang tidak dapat diterima,” tegas Donald Trump, menyiratkan jalan panjang dan berliku menuju deeskalasi.

Reaksi pasar energi berlangsung cepat dan tajam. Harga minyak mentah dunia melesat, didorong kekhawatiran akan gangguan pasokan melalui jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Lonjakan ini mempertegas betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global terhadap gejolak politik di Timur Tengah.

Implikasi bagi Indonesia: Kerentanan di Tengah Ketegangan

Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita dari kejauhan. Sebagai negara yang ketergantungannya pada impor energi masih signifikan, setiap guncangan di pusat produksi minyak dunia berpotensi menggoyah perekonomian domestik. Harapan bahwa pergantian kepemimpinan di Iran akan membawa perdamaian cepat dan meredam harga energi, kini tampak semakin kecil.

Elite Iran justru menunjukkan pilihan untuk kontinuitas, mempertahankan garis kebijakan yang selama ini menjadi sumber ketegangan. Artinya, tekanan inflasi global akibat harga energi tinggi berpotensi berkepanjangan, bukan hanya hitungan hari, tetapi bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Membangun Ketahanan di Tengah Krisis Berkepanjangan

Situasi ini menuntut kesiapan strategis yang lebih matang dari pemerintah Indonesia. Langkah darurat, seperti penguatan cadangan dan pengendalian distribusi BBM, mutlak diperlukan. Namun, standar cadangan operasional yang selama ini dianggap aman, mungkin perlu dikaji ulang menghadapi potensi krisis yang berlarut.

Di sisi lain, krisis ini seharusnya menjadi pengingat akan kerentanan struktural ketahanan energi nasional. Ketergantungan pada impor minyak melalui jalur rawan konflik adalah titik lemah yang sudah lama diketahui. Oleh karena itu, upaya diversifikasi sumber energi dan penguatan produksi domestik harus dipercepat, beralih dari sekadar wacana pembangunan menjadi aksi strategis yang konkret.

Optimisme kepemimpinan nasional untuk menghadapi turbulensi geopolitik ini perlu diikuti dengan langkah kolektif. Semangat untuk meningkatkan swasembada, baik di sektor energi maupun pangan, serta menjaga persatuan nasional, menjadi modal penting agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga keluar dari krisis dengan fondasi ekonomi yang lebih mandiri dan tangguh.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar