Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal Rp25.000 Triliun pada 2031

- Rabu, 11 Maret 2026 | 09:50 WIB
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi Pasar Modal Rp25.000 Triliun pada 2031

PARADAPOS.COM - Calon anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi, menargetkan kapitalisasi pasar modal Indonesia melesat menjadi Rp25.000 triliun pada 2031. Target ambisius ini, yang setara dengan sekitar 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, ia sampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi XI DPR RI, Rabu (11/3/2026). Selain itu, ia juga memproyeksikan jumlah investor akan membengkak menjadi 30 juta orang dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp35 triliun.

Visi Besar dan Fondasi Integritas

Dalam paparannya di ruang rapat parlemen, Hasan menegaskan bahwa target tersebut bukan sekadar angka. Ia meletakkannya sebagai bagian dari proyeksi kinerja strategis untuk memperkuat peran pasar modal sebagai tulang punggung pembiayaan pembangunan nasional. Namun, visi besar ini, menurutnya, hanya bisa tercapai jika dibangun di atas fondasi yang kokoh: integritas pasar.

“Integritas pasar modal merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan memperkuat peran pasar sebagai mesin pembiayaan pembangunan nasional,” tegas Hasan.

Mengurai Tantangan di Balik Tren Positif

Meski mengakui sejumlah capaian positif seperti peningkatan jumlah investor dan kapitalisasi, Hasan tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan struktural yang masih membayangi. Analisisnya mengidentifikasi sejumlah persoalan klasik yang terus menggerogoti kepercayaan, mulai dari praktik manipulasi harga, perdagangan terkoordinasi, hingga maraknya penggunaan rekening nominee.

Rendahnya literasi keuangan sebagian investor dan keterbatasan pengembangan di sektor derivatif serta bursa karbon juga disebut sebagai hambatan yang perlu segera diatasi. Berbagai masalah ini, jika dibiarkan, dinilai dapat merusak ekosistem pasar dan menghambat pertumbuhannya.

Strategi "Integralitas": Lima Klaster Reformasi

Untuk menjawab tantangan itu, Hasan memperkenalkan sebuah kerangka strategis komprehensif bernama "Integralitas". Kerangka ini dirancang dengan delapan rencana aksi yang dikelompokkan ke dalam lima klaster utama: integrasi, granularitas, likuiditas, transparansi, dan akuntabilitas.

Secara konkret, langkah-langkah reformasi yang diusung mencakup penguatan koordinasi antar lembaga pengawas, pengembangan data kepemilikan saham yang lebih detail dan mendalam, serta rencana peningkatan batas minimal saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen. Tata kelola emiten dan pengungkapan kepemilikan saham utama juga akan diperketat, disertai dengan persiapan menuju demutualisasi bursa untuk meningkatkan transparansi.

Langkah Awal dan Arsitektur Transformasi

Hasan mengungkapkan bahwa beberapa inisiatif awal telah mulai digulirkan sejak Maret 2026. Langkah-langkah perdana itu antara lain publikasi struktur kepemilikan saham di atas satu persen, penyempurnaan klasifikasi investor menjadi puluhan subtipe yang lebih spesifik, serta pembentukan satuan tugas khusus yang akan mengawal proses reformasi integritas pasar secara berkelanjutan.

Ia meyakini bahwa kombinasi strategi Integralitas dengan empat pilar pendukung—penguatan kelembagaan, peningkatan SDM, pembangunan infrastruktur, dan dukungan anggaran—akan membentuk sebuah transformasi menyeluruh.

“Kombinasi klaster integralitas dan empat pilar pendukung akan membentuk arsitektur transformasi sektor pasar modal yang kredibel, modern, dan berdaya saing global,” pungkasnya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar