Iran Tunjuk Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, Tolak Tegas Campur Tangan AS

- Selasa, 10 Maret 2026 | 22:25 WIB
Iran Tunjuk Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, Tolak Tegas Campur Tangan AS

PARADAPOS.COM - Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang wafat pada Sabtu, 28 Februari. Penunjukan ini, yang diumumkan pada Selasa (3/3), dipandang sebagai penolakan tegas terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya meminta agar Iran tidak memilih figur tersebut. Mojtaba, yang berusia 57 tahun, dikenal memiliki koneksi kuat dengan tubuh ulama dan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC).

Profil dan Latar Belakang Pengganti

Lahir di Mashhad pada 8 September 1969, perjalanan intelektual dan spiritual Mojtaba Khamenei dibentuk langsung di bawah bimbingan ayahnya. Ia menempuh pendidikan agama di kota suci Qom, pusat pembelajaran Syiah terkemuka di Iran, dan kemudian mengajar di sana. Tidak hanya mendalami ilmu keagamaan, ia juga mengambil kursus tingkat lanjut yang biasanya diperuntukkan bagi ulama-ulama senior.

Pengalamannya tidak terbatas di ruang kelas. Mojtaba diketahui bergabung dengan IRGC dan bertugas di garis akhir Perang Iran-Irak (1980-1988). Latar belakang militer ini, ditambah dengan kedekatannya pada lingkaran kekuasaan tertinggi, membuatnya dipandang sebagai figur yang memahami seluk-beluk pertahanan dan politik dalam negeri Iran.

Penolakan Terhadap Campur Tangan Asing

Penunjukan ini tidak terlepas dari konteks ketegangan dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap kandidatur Mojtaba dan mengancam bahwa pemimpin Iran yang tidak disetujuinya "tak akan bertahan lama."

Namun, ancaman itu justru dijawab dengan langkah yang berani. Pilihan Iran ini mengirimkan sinyal politik yang jelas mengenai kedaulatan dan penolakan terhadap campur tangan asing dalam urusan dalam negeri mereka. Para pemimpin di Teheran tampaknya sengaja mengambil langkah yang berseberangan dengan keinginan Washington.

Seorang analis politik yang mengamati perkembangan di kawasan memberikan pandangannya.

"Gaya-gayaan Trump ingin dimintai persetujuan siapa yang akan memimpin Iran, itulah yang ditentang oleh para pemimpin Iran, setelah kepergian Ayatullah Ali Khamenei," ungkapnya.

Dampak pada Masa Depan Hubungan dan Konflik

Dengan latar belakang keluarga yang menjadi korban kebijakan AS, dinamika hubungan bilateral diprediksi akan memasuki fase yang lebih suram. Ayah, istri, anak, dan saudara Mojtaba dilaporkan tewas dalam serangan yang diperintahkan Trump pada akhir Februari lalu. Trauma personal ini diperkirakan akan membayangi setiap kemungkinan dialog.

Dari sudut pandang keamanan regional, penunjukan ini juga berpotensi mengubah kalkulasi. Sebagian pengamat memprediksi kebijakan luar negeri Iran akan semakin teguh, khususnya terkait konflik dengan Israel. Sebuah laporan intelijen yang beredar bahkan menyebutkan perubahan pola pengamanan pada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyusul ancaman rudal dari Iran.

Mengomentari tenggat waktu yang diberikan Trump, analis tersebut menambahkan,

"Target lima pekan Trump, masih tersisa tiga pekan lagi. Tapi, terpilihnya Mojtaba, perang seperti dimulai dari awal lagi," tuturnya.

Dengan demikian, kepemimpinan baru Iran ini bukan sekadar suksesi internal, melainkan sebuah pernyataan politik yang akan menentukan arah ketegangan di Timur Tengah untuk waktu yang akan datang.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar