Isu dugaan penggelembungan biaya atau markup pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali mencuat. Sorotan utama warganet tertuju pada perbandingan biaya pembangunannya yang dinilai jauh lebih mahal dibandingkan proyek serupa di luar negeri.
Biaya pembangunan Kereta Whoosh untuk rute sepanjang 142 kilometer tercatat sebesar 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp120,7 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan biaya pembangunan Kereta Haramain High-Speed Railway (HHR) di Arab Saudi. Padahal, kereta di Arab Saudi itu membentang sejauh 1.500 kilometer dengan biaya hanya 7 miliar dolar AS (sekitar Rp116,2 triliun).
Perbandingan ini menuai tanggapan beragam, termasuk dari pendukung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang membantah dengan alasan perbedaan spesifikasi teknis. Menanggapi hal itu, seorang aktivis media sosial, Ruhul Maani, lantas membandingkannya dengan kereta cepat di Jepang yang dianggap memiliki spesifikasi serupa.
Disebutkan bahwa untuk jarak yang hampir sama, Jepang mampu membangun kereta cepat dengan biaya sekitar Rp65 triliun. Hal ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai alasan pemilihan mitra dari Tiongkok dengan harga yang jauh lebih tinggi, serta komposisi pendanaan proyek yang 75%-nya berasal dari pinjaman China Development Bank.
Sumber: https://rmol.id/read/2025/10/27/684539/jokowi-terlalu-banyak-merampok-duit-proyek-whoosh-
Artikel Terkait
Menjual Barang Bekas yang Menumpuk: Hambatan Menulis Listing dan Solusi yang Mengubah Waktu 20 Menit Jadi 3 Menit
Dokter Tifa Bantah Lari dari Kasus Ijazah Jokowi, Siap Buktikan Temuannya di Sidang Praperadilan 12 Agustus
Pemerintah Tanggung Utang Rp240 Triliun Koperasi Desa Merah Putih, Cicilan Berjalan Enam Tahun
KKI Identifikasi 10 Tenaga Kesehatan Berkomentar Sinis ke Pasien BPJS, Terancam Sanksi Pencabutan STR