Bumi Hangus Belanda, Bukan Jepang, yang Hanguskan Banjarmasin pada 1942

- Minggu, 08 Februari 2026 | 03:25 WIB
Bumi Hangus Belanda, Bukan Jepang, yang Hanguskan Banjarmasin pada 1942

PARADAPOS.COM - Pada malam 8 Februari 1942, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dilalap kobaran api besar yang menghanguskan pelabuhan, gudang, dan infrastruktur vital kota. Peristiwa kelam yang kerap dikaitkan dengan invasi Jepang ini, berdasarkan catatan sejarah, justru merupakan hasil kebijakan 'bumi hangus' yang dijalankan oleh pasukan kolonial Belanda sebelum mereka mundur. Tindakan strategis ini, yang bertujuan menghalangi kemajuan musuh, justru menimbulkan penderitaan mendalam bagi warga sipil dan mengubah wajah kota untuk waktu yang lama.

Latar Belakang Strategi Bumi Hangus

Dengan pecahnya Perang Pasifik, posisi Hindia Belanda di Kalimantan semakin genting. Jatuhnya Balikpapan ke tangan Jepang pada akhir Januari 1942 membuat Banjarmasin, sebagai simpul transportasi dan perdagangan utama, menjadi sasaran berikutnya yang nyaris tak terbendung. Menyadari ketidakmampuan bertahan, komando militer Belanda pun mengambil keputusan yang pahit: menghancurkan sendiri seluruh fasilitas strategis agar tidak dapat dimanfaatkan oleh pasukan pendudukan. Pasukan khusus kemudian disiapkan dengan bahan peledak dan pembakar, menargetkan titik-titik vital kota.

Malam Kepanikan dan Kehancuran

Ledakan pertama mengguncang Banjarmasin tepat pada malam itu. Gudang-gudang bahan bakar di sekitar pelabuhan menjadi sasaran awal, menyulut api yang dengan cepat menjalar ke segala penjuru. Angin dan struktur bangunan kayu yang dominan membuat kobaran api semakin tak terkendali. Jembatan utama dihancurkan, sementara kantor listrik dibakar, menjerumuskan seluruh kota ke dalam kegelapan dan kepanikan.

Bagi penduduk yang tidak mendapat peringatan atau arahan evakuasi yang jelas, malam itu adalah mimpi buruk yang nyata. Mereka berlarian menyelamatkan diri di tengah kepungan asap dan bara, sambil membawa barang-barang seadanya. Kekosongan kekuasaan segera terjadi, memicu aksi penjarahan di beberapa tempat saat aparat kolonial mulai meninggalkan pos mereka.

Kedatangan Jepang dan Warisan Penderitaan

Pasukan Jepang baru tiba di Banjarmasin beberapa hari setelah peristiwa pembumihangusan itu. Yang mereka temui bukanlah kota yang siap dijarah, melainkan lanskap puing dan infrastruktur yang telah dihancurkan oleh tangan Belanda sendiri. Meski demikian, pendudukan tetap berlangsung dan membuka babak baru penderitaan di bawah kekuasaan Jepang.

Selama puluhan tahun, ingatan kolektif sering kali menyederhanakan tragedi ini sebagai "pembakaran oleh Jepang". Padahal, sumber api berasal dari kebijakan kolonial Belanda. Sejarawan menegaskan, "Api yang melalap Banjarmasin adalah hasil strategi bumi hangus (scorched earth) yang dijalankan pemerintahan kolonial Belanda, beberapa hari sebelum mereka mundur dari kota tersebut," ungkapnya.

Dampak Jangka Panjang dan Ingatan yang Tetap Hidup

Tragedi itu meninggalkan luka yang dalam dan berjangka panjang. Infrastruktur kota lumpuh total, perekonomian terpuruk, dan masyarakat harus berjuang membangun kembali kehidupan dari reruntuhan. Lebih dari kerusakan fisik, peristiwa ini menorehkan trauma psikologis yang diwariskan lintas generasi, sebuah pengingat kelam tentang betapa rapuhnya posisi rakyat biasa di tengah pergulatan kekuatan besar.

Kini, delapan dekade telah berlalu. Api itu telah lama padam, dan Banjarmasin telah bangkit menjadi kota metropolitan. Namun, ingatan tentang malam kelam di tepian Sungai Barito itu tetap hidup, menjadi bagian dari memori kolektif yang menegaskan bahwa dalam setiap konflik, korban paling sunyi sering kali justru mereka yang paling jauh dari meja perundingan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar