PARADAPOS.COM - Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang masih tinggi membuka ruang lebar bagi dirinya untuk memilih pendamping di Pilpres 2029, tanpa terikat pada Wapres Gibran Rakabuming Raka. Analisis ini mengemuka menyusul survei terbaru dan seruan dari internal partai pengusungnya, Gerindra, yang mulai menggaungkan wacana periode kedua. Meski demikian, elite partai menegaskan belum ada pembicaraan serius mengenai pasangan calon, menandakan dinamika politik yang masih sangat cair meski jarak pemilihan masih tiga tahun.
Elektabilitas Tinggi Beri Ruang Manuver
Posisi elektabilitas Prabowo Subianto, berdasarkan temuan survei periode akhir Oktober hingga awal November 2025, masih berada di level yang sangat dominan. Angkanya disebut masih jauh di atas tokoh nasional lainnya. Kondisi ini, menurut pengamat, memberikan keleluasaan politik yang besar bagi Presiden incumbent.
Managing Director Public Policy & Politics Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, menjelaskan bahwa posisi tersebut membuat Prabowo cenderung lebih independen dalam menentukan calon wakil presiden. Pilihan tidak terbatas pada Gibran, tetapi bisa berasal dari internal Gerindra atau partai koalisi lainnya.
"Elektabilitas Prabowo Subianto masih cukup besar, lebih dari 70 persen dibandingkan tokoh nasional lainnya. Sebagai presiden incumbent di periode kedua, Presiden Prabowo akan lebih cenderung independen dalam menentukan siapa yang akan beliau pilih," jelas Fadhli.
Meski peluang duet Prabowo-Gibran tetap ada, Fadhli menilai itu bukan satu-satunya skenario. Peluang tersebut, tuturnya, sangat bergantung pada faktor elektabilitas dan penerimaan publik terhadap Gibran, serta dinamika hubungan politik antara Prabowo dan Joko Widodo.
"Peluang Prabowo memilih Gibran sebagai cawapres ada, tapi kecil tergantung elektabilitas dan acceptabilitas, serta hubungan dan komunikasi politik Jokowi terhadap Prabowo," tegasnya.
Gaungan Dua Periode dari Internal Gerindra
Wacana periode kedua untuk Prabowo mulai mendapatkan momentum resmi dari partainya. Dalam acara syukuran HUT ke-18 Gerindra di Kompleks Parlemen Senayan, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra, Ahmad Muzani, secara terbuka menyerukan dukungan untuk pemerintahan Prabowo dan mengisyaratkan kelanjutan kepemimpinan.
Di hadapan para kader yang memadati ruangan, Muzani mengajak seluruh jajaran partai untuk merapatkan barisan. Suasana semakin panas ketika ia memimpin yel-yel bersama yang secara gamblang menyuarakan ambisi dua periode.
“Sayangilah, bantulah, dan dukunglah terus-menerus pemerintahan Prabowo ini untuk Indonesia yang lebih baik,” ucap Muzani.
“Saya tanya Gerindra, jawabannya menang, Prabowo jawabannya Presiden, Presiden jawabannya dua periode!,” serunya, yang langsung disambut riuh kader dengan teriakan yang sama.
Posisi Cawapres Masih Terbuka Lebar
Terlepas dari gaungan tersebut, jajaran pimpinan Gerindra lainnya justru menempatkan wacana pendampingan sebagai hal yang prematur untuk dibicarakan saat ini. Sekretaris Jenderal Gerindra, Sugiono, dengan tegas menyatakan bahwa partai sama sekali belum membahas siapa calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo di 2029.
“Kita enggak pernah, belum pernah. Belum pernah membuka pembicaraan itu,” ungkapnya.
Sugiono menegaskan bahwa fokus partai saat ini masih pada pengawalan program-program pemerintahan. Dalam pandangannya, peta politik masih akan mengalami banyak pergerakan, sehingga pembicaraan tentang pasangan calon dinilai belum pada waktunya.
“Jadi tidak ada bicara itu, masih fokus pada, itu tadi saya sampaikan, perjuangan ini masih panjang. Kita masih, program-program yang diluncurkan oleh Pak Presiden ini juga harus terus kita kawal kesuksesannya,” jelasnya.
Dinamika dan Sinyal dari Luar Partai
Meski pembicaraan internal Gerindra masih sangat awal, wacana Pilpres 2029 telah memanas di ruang publik. Bahkan, mantan Presiden Joko Widodo telah menyampaikan posisinya secara terbuka. Saat ditemui di Solo, Jokowi dengan singkat menyatakan dukungannya untuk kelanjutan duet tersebut.
“Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja,” kata Jokowi.
Pernyataan dari berbagai pihak ini menggambarkan sebuah babak awal dari pertarungan politik panjang. Elektabilitas kuat di satu sisi memberi kartu as, namun pilihan strategis mengenai pendamping dan koalisi akan menjadi penentu dalam peta yang masih terus berubah.
Artikel Terkait
Gerindra Serukan Dua Periode untuk Prabowo, Tanpa Sertakan Nama Gibran
Analis Prediksi Perebutan Kursi Cawapres Prabowo di Pilpres 2029
Presiden Prabowo Apresiasi Umat Islam Indonesia sebagai Teladan Kerukunan Global
Zulkifli Hasan Buka Peluang Maju sebagai Cawapres 2029 Usai Dukungan Internal PAN