PARADAPOS.COM - Konten kreator dan pengusaha Raymond Chin membedah kasus Jeffrey Epstein, mengungkap bagaimana pelaku kejahatan seksual itu membangun sistem manipulasi yang menjerat elite global. Dalam analisisnya, Chin menekankan bahwa skandal Epstein bukanlah teori konspirasi, melainkan fakta hukum yang mengungkap jaringan kekuasaan, uang, dan pemerasan berskala internasional.
Analisis Sistemik di Balik Kejahatan Epstein
Dalam sebuah video yang diunggah pada Sabtu, 7 Februari 2026, Raymond Chin menyajikan pandangannya yang tajam. Ia menilai Epstein jauh melampaui gambaran seorang predator seksual biasa. Menurut Chin, Epstein adalah arsitek dari sebuah operasi sistematis yang dirancang untuk menundukkan orang-orang paling berkuasa di dunia melalui mekanisme bisnis gelap, akses eksklusif, dan pemerasan.
“Jeffrey Epstein itu menjijikkan banget. Dia bukan level kriminal biasa. Dia monster yang membangun pulau untuk memperdagangkan anak di bawah umur demi melayani orang-orang paling berkuasa di bumi,” tuturnya.
Fakta Hukum yang Telah Terungkap
Chin dengan tegas menolak menyederhanakan kasus ini sebagai rumor belaka. Ia menggarisbawahi bahwa banyak fakta telah melewati proses hukum, meski dokumen yang dibuka untuk publik masih sangat terbatas. Nama-nama besar dari kalangan bangsawan, mantan presiden, hingga taipan teknologi, disebut-sebut pernah berada dalam orbit Epstein berdasarkan bukti seperti catatan penerbangan dan kesaksian di pengadilan.
Sebagai seorang pengusaha, yang membuatnya bergidik bukan hanya kejahatan individualnya, melainkan kemudahan Epstein menembus benteng-benteng kekuasaan. Bagaimana seorang mantan narapidana bisa leluasa masuk ke Gedung Putih, bertemu dengan keluarga kerajaan, dan dilindungi oleh institusi keuangan ternama?
“Yang bikin gua merinding itu bukan cuma kejahatannya, tapi sistemnya. Kok bisa bank sekelas JP Morgan rela melanggar aturan demi ngelindungi transaksi haramnya?” ujarnya.
Chin menunjuk hubungan Epstein dengan miliarder Leslie Wexner sebagai titik kunci. Pemberian power of attorney atau kuasa hukum penuh yang tidak lazim itu, menurutnya, adalah gerbang yang membuka semua akses finansial dan sosial Epstein.
Topeng Filantropi dan Sains
Lebih lanjut, Chin menguraikan strategi Epstein dalam memperoleh legitimasi. Epstein dengan cerdik merek dirinya sebagai seorang filantropis di bidang sains, dengan menyumbang besar-besaran ke universitas ternama seperti Harvard dan MIT.
“Dia rebranding jadi science philanthropist. Nyumbang ke Harvard, MIT, dan danai riset-riset aneh. Itu pintu belakang buat masuk ke Bill Gates, Stephen Hawking, dan elite lainnya,” jelasnya.
Topeng terhormat inilah, menurut analisis Chin, yang berhasil mencuci reputasinya dan membuka pintu ke lingkaran elite intelektual dan politik global, sementara aktivitas kriminalnya terus berjalan di balik layar.
Mekanisme Jebakan dan Pemerasan
Bagian paling mengerikan dari sistem Epstein, menurut Chin, adalah dugaan kuat operasi honey trap atau jebakan dan pemerasan yang terstruktur. Ia menyebut temuan FBI tentang kamera tersembunyi di berbagai properti Epstein, termasuk di pulau pribadinya, Little St. James.
“Dia ngumpulin kompromat. Ribuan jam rekaman elite dunia lagi ngelakuin kejahatan. Itu kartu as-nya,” lanjutnya.
Dengan mengumpulkan materi kompromat tersebut, Epstein diduga mampu menyandera integritas dan moralitas para tokoh yang seharusnya menegakkan hukum, sehingga menciptakan jaringan perlindungan yang hampir tak tertembus.
Keterkaitan dengan Indonesia dan Warisan Sistem Gelap
Chin juga menyentuh ramainya pembicaraan mengenai kemunculan nama-nama dari Indonesia dalam dokumen yang terkait. Ia mengambil sikap hati-hati dalam menyikapi hal ini.
“Ini bukan hubungan langsung ya. Tapi unik aja kenapa nama elite politik Indonesia bisa muncul. Kalian bisa baca sendiri,” ungkapnya, seraya mengingatkan agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Di akhir analisisnya, Chin menegaskan bahwa kematian Epstein di sel tahanan pada Agustus 2019—yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri di tengah berbagai kejanggalan—bukanlah akhir dari cerita. Baginya, Epstein hanyalah sebuah gejala dari penyakit yang lebih besar.
“Epstein itu gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya sistem di mana uang dan kekuasaan bisa membengkokkan hukum,” tegasnya.
Ia mempertanyakan keberlangsungan jaringan serupa di berbagai belahan dunia, termasuk kemungkinan adanya di Indonesia. Dengan nada reflektif, Chin menyimpulkan, “Menurut gua, pasti ada. Tinggal ketahuan atau belum.”
Pandangan Raymond Chin ini menyoroti kasus Epstein bukan sekadar kronologi kejahatan, tetapi sebagai sebuah studi kasus suram tentang bagaimana kekuasaan dan privilege dapat disalahgunakan secara sistemik, meninggalkan pertanyaan mendalam tentang akuntabilitas dan keadilan di tingkat global.
Artikel Terkait
Lima Mahasiswa Luka Bakar Diduga Akibat Tendangan Polisi ke Ban Membara Saat Demo Dana Desa
Remaja Putri 17 Tahun Hilang di Depok, Keluarga Minta Bantuan Publik
Tanah Bergerak di Tegal Rusak 464 Rumah, 2.426 Warga Mengungsi
Polda Jambi Pecat Dua Anggota Polisi Terlibat Dugaan Pemerkosaan Remaja