PARADAPOS.COM - Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjadi pemimpin utama ekonomi syariah dunia. Optimisme ini disampaikan CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib dalam sebuah forum ekonomi, menyusul prestasi Indonesia yang konsisten menempati peringkat ketiga ekosistem keuangan syariah global. Untuk mencapai ambisi tersebut, diperlukan kerja keras kolektif dalam memperkuat ekosistem, mulai dari kebijakan, talenta, digitalisasi, hingga literasi masyarakat.
Pijakan Strategis dari Peringkat Global
Pernyataan Mirdal Akib bukan tanpa dasar. Ia merujuk pada laporan The State of Global Islamic Economic Indicator Report 2025, yang menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Posisi ini menegaskan konsistensi Indonesia sebagai negara dengan ekosistem ekonomi Islam terkuat, sejajar dengan Malaysia dan Arab Saudi.
Pencapaian ini, menurutnya, merupakan pijakan strategis yang sangat berharga. Penilaian dalam laporan tersebut bersifat komprehensif, mencakup tujuh sektor utama yang menjadi tulang punggung ekonomi syariah.
Mirdal Akib menjelaskan, "Laporan ini menilai kinerja negara-negara di tujuh sektor utama, satu makanan halal, dua keuangan islam, pariwisata yang muslim friendly, ramah muslim, busana muslimah, kosmetika dan farmasi halal media rekreasi serta investasi halal." Pernyataan itu ia sampaikan dalam sambutannya di acara Sharia Economic Forum bertajuk "Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact", Kamis, 12 Februari 2026.
Memanfaatkan Momentum Pasar Raksasa
Dengan fondasi yang sudah terbukti kuat, Mirdal menegaskan bahwa momentum untuk melangkah lebih jauh telah tiba. Keyakinannya didukung oleh data pasar yang sangat masif dan terus bertumbuh. Potensi ekonomi dari konsumen muslim global merupakan angka yang fantastis dan sulit diabaikan.
Ia mengutip data terbaru untuk memperkuat argumennya. "Berdasarkan The State of Global Islamic Economic Indicator Report 2023, pengeluaran konsumen muslim seluruh dunia mencapai USD2,43 triliun atau sekitar Rp40 ribu triliun. Dengan proyeksi akan meningkat menjadi USD3,36 triliun atau sekitar Rp55 ribu triliun pada 2028," ungkapnya.
Angka besar tidak hanya datang dari sisi konsumsi. Aset keuangan Islam global juga telah menembus angka USD4,93 triliun dengan potensi pertumbuhan yang signifikan. Data-data ini, dalam pandangan banyak pengamat, menunjukkan bahwa ekonomi syariah telah bertransformasi dari ceruk pasar menjadi arus utama yang turut menggerakkan perekonomian dunia.
Integrasi Kebijakan dan Langkah Ke Depan
Merespons peluang besar ini, pemerintah Indonesia telah mulai mengintegrasikan arah pengembangan ekonomi syariah ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang. Langkah kebijakan ini diharapkan dapat mengkonsolidasikan seluruh potensi yang ada untuk bergerak secara terarah.
Mirdal Akib memaparkan, "Pemerintah telah mengintegrasikan arah kebijakan ekonomi Islam dalam RPJMN 2025-2029 dan RPJPN 2025-2045 dengan fokus pada sektor riil industri halal dan keuangan sosial Islam. Pemimpin ekonomi syariah global saat ini strategis bagi Indonesia, sebab ekonomi syariah global adalah pasar raksasa," tegasnya.
Dengan kata lain, perjalanan menuju puncak membutuhkan lebih dari sekadar prestasi di atas kertas. Sinergi antara penguatan regulasi, pengembangan sumber daya manusia yang mumpuni, inovasi digital, dan peningkatan pemahaman masyarakat menjadi kunci untuk mentransformasi potensi yang masif itu menjadi kemakmuran yang nyata dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Artikel Terkait
BSI Catat Rekor Nasabah Baru Tertinggi Usai Ekspansi 5.000 ATM di Ruang Publik
KCIC Sesuaikan Jadwal Operasional Kereta Cepat Whoosh untuk Pekerjaan SUTT
Tragedi Miras Oplosan Tewaskan 9 Orang di Subang, Dua Tersangka Diamankan
Satgas Cartenz Duga KKB Pimpinan Elkius Kobak Dalang Penembakan Pilot Smart Air di Boven Digoel