Serangan Udara Militer Myanmar di Magway Tewaskan 5 Warga Sipil

- Rabu, 11 Februari 2026 | 10:25 WIB
Serangan Udara Militer Myanmar di Magway Tewaskan 5 Warga Sipil

PARADAPOS.COM - Sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh militer Myanmar di wilayah tengah negara itu menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan melukai belasan orang lainnya. Peristiwa tragis ini terjadi di Desa Chatkan, Township Pauk, Region Magway, pada Selasa (10/2/2026), berdasarkan laporan media lokal dan pekerja kemanusiaan di lapangan. Serangan ini kembali menyoroti eskalasi kekerasan dalam konflik sipil yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Korban Jiwa dan Kondisi Korban Luka

Serangan udara yang terjadi pada Selasa lalu itu meninggalkan korban jiwa dan luka-luka di tengah masyarakat sipil. Seorang pekerja bantuan kemanusiaan yang berada di lokasi kejadian memberikan kesaksian langsung mengenai dampak serangan tersebut.

“Salah satu bom menghantam sebuah toko dan menewaskan lima orang di tempat,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa dari 13 korban luka yang diderita warga, tiga di antaranya berada dalam kondisi yang sangat kritis.

Latar Belakang Konflik di Kawasan

Wilayah tempat serangan terjadi, Region Magway, diketahui merupakan area dengan situasi keamanan yang kompleks. Kawasan itu sebagian berada di bawah kendali People’s Defense Force (PDF), sayap bersenjata dari Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang dibentuk untuk melawan junta militer pasca kudeta Februari 2021. Konflik bersenjata antara kedua pihak telah berulang kali terjadi di sini.

Menjelang serangan udara ini, PDF bahkan mengklaim telah menewaskan sedikitnya 18 tentara junta dalam bentrokan di desa tetangga, Thichauk, pada awal bulan. Akibat pertempuran dan serangan udara yang berkelanjutan, lebih dari 5.000 warga dilaporkan telah mengungsi dari kawasan Pauk, mengungkap skala krisis kemanusiaan yang ditimbulkan.

Eskalasi Kekerasan dan Dampak Jangka Panjang

Serangan di Chatkan bukanlah insiden yang terisolasi. Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: sedikitnya 170 warga sipil tewas dalam lebih dari 400 serangan udara hanya selama periode pemilu Myanmar. Angka ini menggambarkan pola operasi militer yang semakin mengabaikan keselamatan penduduk sipil.

Konflik yang dipicu oleh pengambilalihan kekuasaan militer pada 2021 telah menggulingkan pemerintahan sipil terpilih dan membawa Myanmar ke dalam krisis multidimensi. Hampir empat tahun kemudian, bentrokan tidak hanya terjadi antara junta dan PDF, tetapi juga melibatkan berbagai kelompok etnis, membuat situasi semakin rumit dan berdarah.

Menurut pemantauan organisasi hak asasi manusia internasional, konflik yang berkepanjangan ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Lebih dari 6.000 orang dilaporkan tewas, sementara hampir tiga juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi di tanah airnya sendiri. Dampak sosial dan kemanusiaan dari krisis ini terus membayangi masa depan Myanmar.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar