PARADAPOS.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat rekor pertumbuhan nasabah baru tertinggi dalam sejarahnya, dengan lebih dari dua juta akun yang dibuka sepanjang tahun 2025. Pencapaian ini, menurut Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho, merupakan buah dari strategi ekspansi agresif jaringan ATM di ruang publik yang dilakukan sejak 2023.
Strategi Ekspansi ATM dan Dampaknya
Dalam sebuah forum ekonomi syariah di Jakarta, Kamis (12/2/2026), Ade Cahyo Nugroho memaparkan bahwa penambahan 5.000 unit ATM di lokasi strategis seperti stasiun MRT menjadi kunci peningkatan kepercayaan dan akses masyarakat. Langkah ini, meski memerlukan investasi yang tidak kecil, terbukti efektif mendongkrak angka nasabah sekaligus memperkenalkan layanan perbankan syariah kepada khalayak yang lebih luas.
Dia menjelaskan, "Penambahan 5.000 ATM ini meningkatkan jumlah nasabah. Pada 2025, BSI mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah kita berdiri, yakni jumlah customer baru. Jadi kita tahun lalu nambah customer baru itu lebih dari dua juta nasabah dalam satu tahun."
Mengatasi Kesenjangan Kehadiran Fisik
Lebih dari sekadar angka, ekspansi ini ditujukan untuk mengatasi tantangan mendasar dalam industri perbankan syariah: rendahnya tingkat inklusi yang masih berkisar di angka 13 persen. Cahyo menilai, faktor physical presence atau kehadiran fisik menjadi penghalang terbesar bagi masyarakat yang ingin beralih dari bank konvensional.
"Jadi melalui physical presence, yang pertama cabang dulu dan pada 2022-2023 kita secara masif nambah jumlah ATM," tuturnya. "Jadi sebelumnya ATM bank syariah itu sangat jarang, bahkan ATM BSI sendiri sebelumnya hanya ada di kantor cabang, bukan di public space. Makanya 2023 kita beli 5.000 ATM baru, dan kita taruh di public space, termasuk di MRT dan segala macam," lanjutnya.
Respons Masyarakat dan Tantangan Ke Depan
Menariknya, dampak langsung dari penambahan ribuan ATM ini tidak serta-merta meningkatkan volume transaksi di mesin tersebut. Namun, survei yang dilakukan BSI mengungkap perubahan persepsi yang signifikan. Keberadaan ATM di tempat umum menciptakan kesan keberpihakan dan kemudahan akses di benak calon nasabah.
"Berdasarkan customer survey, kita tanya, apa yang sudah lumayan bagus di BSI? Jawabannya, 'ATM-nya sudah kelihatan di mana-mana'," ungkap Cahyo. "Tapi tentu (anggaran pengadaaan 5.000 ATM) itu enggak murah, tentu angka yang besar."
Di akhir paparannya, Cahyo menyampaikan keyakinannya bahwa permintaan terhadap layanan keuangan syariah sebenarnya sudah ada. Tantangannya terletak pada penyediaan akses yang merata. Dia berharap langkah masif yang diambil BSI dapat diikuti oleh pelaku industri syariah lainnya untuk bersama-sama mendorong angka inklusi keuangan syariah nasional.
"Nah unfortunately, saat ini yang mampu melakukan dalam skala masif cuma BSI. Tapi saya yakin nanti dengan kehadiran bank syariah lain, dengan mindset yang sama, bahwa demand-nya ada, mudah-mudahan inklusi bisa meningkat juga," tegasnya. "Jadi, physical presence yang paling fundamental yang kita lakukan."
Artikel Terkait
Utusan Khusus Presiden Peringatkan Anomali Valuasi Saham, 76 Emiten Catat PE Ratusan hingga Ribuan Kali
Regulasi dan Ketersediaan Lembaga Jadi Kendala Utama Ekonomi Syariah Indonesia
Budayawan Mohamad Sobary Bela Roy Suryo Cs sebagai Peran Intelektual di Kasus Ijazah Jokowi
Bandung Tutup Tempat Hiburan Malam Selama Ramadan dan Imlek 2026