PARADAPOS.COM - Lonjakan kasus diabetes pada anak-anak Indonesia kini mendapat sorotan serius dari Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan. Ia menyebut fenomena ini sebagai ancaman bagi keberlangsungan generasi bangsa, menyusul ditemukannya kasus anak usia belia yang harus menjalani cuci darah akibat komplikasi penyakit tersebut. Dalam pandangannya, konsumsi gula berlebih, terutama dari minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), perlu segera dikendalikan melalui kebijakan fiskal yang tegas.
Peringatan Keras dari Kasus di Lapangan
Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan, mengungkapkan pergeseran epidemiologis yang mengkhawatirkan. Jika dahulu diabetes tipe 2 identik dengan kelompok lanjut usia, kini penyakit itu mulai menyerang anak-anak. Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang jauh lebih memprihatinkan daripada sekadar angka statistik.
"Sekarang jangan 50–60 tahun, usia 10 tahun sudah ada yang menderita diabetes. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan, anak di bawah 10 tahun sudah ada yang mengalami gagal ginjal. Bayangkan anak usia 6 tahun harus menjalani cuci darah selama berjam-jam untuk menyambung hidupnya," tegasnya.
Gambaran tersebut ia sampaikan untuk memberikan konteks nyata betapa mendesaknya penanganan masalah ini. Kondisi ini, menurutnya, adalah alarm yang tidak boleh lagi diabaikan.
Cukai sebagai Instrumen Pengendalian
Merespons hal itu, BAM DPR RI melihat penerapan cukai atas minuman berpemanis dalam kemasan sebagai salah satu langkah kebijakan yang paling efektif dan berdampak luas. Pendekatan fiskal ini dinilai dapat bekerja dua arah: menekan konsumsi melalui harga dan mendorong reformulasi produk oleh industri.
"Regulasi adalah penyelesaian yang paling efektif. Dengan cukai, harga minuman berpemanis akan naik sehingga konsumsi bisa lebih terkendali. Pada saat yang sama, industri juga terdorong untuk mengurangi kadar gula dalam produknya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penerimaan negara dari instrumen cukai ini berpotensi dialokasikan kembali untuk memperkuat program kesehatan masyarakat, khususnya pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung.
Dukungan untuk Langkah Konkret dan Ajakan ke Masyarakat
Selain cukai, politikus senior itu juga membuka ruang bagi pengaturan kadar gula yang lebih ketat melalui pengawasan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah fiskal memberikan dampak yang lebih cepat. Inti dari semua kebijakan ini adalah mengendalikan konsumsi yang dinilai sudah jauh melampaui batas wajar.
"Yang tidak boleh itu berlebihan. Selama ini konsumsi gula kita sudah sangat berlebihan. Karena itu harus segera dikendalikan," lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Aher tidak hanya berfokus pada kebijakan top-down, tetapi juga mengajak partisipasi aktif masyarakat. Ia menekankan bahwa fondasi bangsa yang sejahtera dibangun dari masyarakat yang sehat dan terdidik.
"Kunci sejahtera ke depan adalah masyarakat yang terdidik dan sehat. Salah satu langkah konkretnya, kurangi gula," tutupnya, mengingatkan bahwa perubahan pola konsumsi dimulai dari kesadaran setiap individu.
Artikel Terkait
BSKDN Gelar Forum Bahas Strategi Komunikasi Kebijakan di Era Digital
Kemenkeu Buka Pendaftaran Magang Reguler 2026, 7-18 Februari
Kejagung Ungkap Modus Geser Kode Ekspor CPO ke Limbah, Rugikan Negara Rp14 Triliun
Kejagung Ungkap Keterlibatan Lebih dari 20 Perusahaan dalam Dugaan Korupsi Ekspor CPO