PARADAPOS.COM - Operasi militer untuk merebut Gunung Potong dari pasukan Permesta pada September 1958 menjadi salah satu babak penting dalam penumpasan pemberontakan daerah. Gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang menuntut otonomi dan menolak pemerintahan sentralistik dari Jawa, telah meluas ke Sulawesi dan membangun pertahanan kuat di medan berbukit nan terjal. Artikel ini mengulas strategi dan dinamika pertempuran yang melibatkan pasukan elite RPKAD (kini Kopassus) dan KKO (kini Korps Marinir) dalam menghadapi tantangan tersebut.
Latar Belakang dan Tantangan Medan
Pemberontakan Permesta, yang berpusat di Sulawesi, memaksa pemerintah pusat mengerahkan pasukan khusus. Sasaran strategis mereka adalah Gunung Potong di Manado, sebuah basis pertahanan alamiah yang nyaris sempurna. Posisinya terletak di antara Bukit Conggaan dan sebuah patahan, menciptakan medan berbatu dengan sistem pertahanan berlapis. Setiap lubang atau celah di bukit dipersenjatai dengan senjata berat, memberikan keuntungan besar bagi pasukan Mayor Permesta Yan Timbuleng yang menguasainya.
Medan inilah yang awalnya menggagalkan upaya penyerangan. Pasukan gabungan RPKAD pimpinan Letnan A. Kodim dan KKO, meski diperkuat artileri dan kavaleri, terpaksa mundur. Mereka hanya berjarak 100 meter dari sasaran, namun dihalangi jurang dalam dan kondisi medan yang terlalu berat. Kegagalan pertama ini memaksa mereka untuk menyusun strategi baru yang lebih taktis dan berisiko.
Penyusunan Kembali dan Rencana Serangan Mendadak
Setelah mengevaluasi kondisi, komando memutuskan untuk melancarkan operasi raid atau serangan mendadak. Rencana baru disusun dalam empat hari, mengandalkan faktor kecepatan dan kejutan. Satu peleton RPKAD di bawah pimpinan Sersan Mayor Soetarno ditugaskan sebagai ujung tombak, didukung satu kompi KKO dan seorang penunjuk jalan lokal yang memahami medan. Operasi akhirnya dilaksanakan pada dini hari tanggal 2 September 1958.
Tim bergerak melalui rute yang dianggap tidak mungkin dilalui, menyusuri semak belukar lebat dan jurang berbatu dalam kegelapan malam. Perjalanan mereka nyaris terbongkar ketika anjing penjaga di posisi Permesta menggonggong. Pasukan sempat berhenti dan mengubah arah, mendaki ke bukit tertinggi untuk mencari celah lain.
Momen Kritis di Tengah Kegelapan
Dari puncak bukit, mereka menemukan jalan setapak tersembunyi yang mengarah langsung ke pos musuh. Dari jarak sekitar 25 meter, terlihat sejumlah personel Permesta sedang berdiang menghangatkan badan. Dalam situasi genting itu, komandan tim dengan cepat membagi tugas. Penembak senjata Bren, peluncur, dan granat disiagakan untuk masing-masing sasaran.
Namun, kondisi gelap gulita justru menjadi pertimbangan utama. Baku tembak di malam hari dinilai terlalu berbahaya dan berpotensi memicu kekacauan. Alih-alih menembak, komandan memerintahkan untuk melakukan penyergapan langsung dan pertempuran jarak dekat.
"Setelah tembakan penyergapan dilakukan, terjadi perkelahian satu lawan satu dengan sangkur, tanpa ada letusan," ungkap salah satu sumber sejarah yang mendeskripsikan momen tersebut.
Penguasaan Basis dan Dampaknya
Strategi itu berhasil. Pada pukul empat dini hari, posisi pertama di Gunung Potong berhasil diamankan. Pasukan Permesta yang selamat melarikan diri dan meninggalkan persenjataan berat mereka, yang justru kemudian dimanfaatkan oleh pasukan pemerintah untuk menyerang posisi musuh di lereng bawah. Setelah menyerahkan lokasi kepada KKO untuk diamankan, pasukan RPKAD terus bergerak maju. Mereka kembali bertemu perlawanan sengit yang berlangsung sekitar dua jam.
Pertempuran berakhir pada pagi hari tanggal 3 September 1958. Pukul enam pagi, pertahanan Permesta di Gunung Potong dinyatakan sepenuhnya berada di bawah kendali RPKAD. Kemenangan ini, meski signifikan, bukanlah akhir dari konflik. Pasukan Permesta yang tersisa beralih ke taktik gerilya, yang kemudian harus dihadapi dalam operasi lanjutan oleh pasukan dari Batalyon 2/RPKAD.
Kisah operasi di Gunung Potong ini menggambarkan kompleksitas konflik di masa awal Republik, di mana tantangan geografis dan taktik perang gerilya membutuhkan strategi khusus, keahlian tempur tinggi, serta ketekunan luar biasa dari pasukan yang terlibat.
Artikel Terkait
MUI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza
Megawati dan Keluarga Tunaikan Ibadah Umrah di Tanah Suci
Guardiola Kritik Performa Manchester City Meski Lolos ke Babak Kelima Piala FA
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Jabodetabek Sepanjang Siang hingga Malam