PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Kuba tidak akan diperlukan, meskipun menganggap skenario semacam itu bukanlah hal yang sulit. Pernyataan ini disampaikannya dalam perjalanan menggunakan pesawat Air Force One, Senin (16/2), sebagai tanggapan atas pertanyaan mengenai kemungkinan aksi serupa dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, awal Januari lalu. Trump mengungkapkan bahwa pemerintah AS saat ini sedang terlibat dalam pembicaraan dengan pihak Kuba.
Pernyataan dari Udara
Saat ditemui wartawan, Trump dengan sengaja menghindari untuk memberikan jawaban langsung mengenai rencana operasi militer. Namun, nada yang digunakan memberikan gambaran tentang posisi Amerika Serikat. Dari ketinggian, pemimpin negara adidaya itu menyampaikan penilaian strategisnya dengan gaya khas yang blak-blakan.
"Saya tidak ingin menjawab itu. Mengapa saya harus menjawabnya? Jika memang terjadi, itu bukan operasi yang sulit, seperti yang bisa Anda bayangkan. Namun, saya pikir itu tidak akan diperlukan," ujarnya.
Negosiasi sebagai Jalan Utama
Alih-alih mengedepankan opsi militer, Trump justru menggarisbawahi upaya diplomatik yang sedang berjalan. Ia menyebut keterlibatan Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, dalam pembicaraan dengan Havana. Menurutnya, dialog ini memiliki urgensi yang tinggi, mengingat konteks permasalahan yang dihadapi.
"Marco Rubio sedang berbicara dengan Kuba sekarang, dan mereka seharusnya benar-benar membuat kesepakatan, karena ini adalah masalah kemanusiaan. Ini benar-benar ancaman kemanusiaan," tutur Trump, dengan nada yang menyiratkan bahwa pihak Kuba juga dianggap memiliki keinginan untuk bernegosiasi.
Konteks Operasi di Venezuela
Latar belakang pertanyaan wartawan merujuk pada operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari lalu. Dalam operasi tersebut, pasukan khusus Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dibawa ke New York untuk menjalani proses hukum.
Trump menegaskan bahwa pasangan tersebut akan diadili atas tuduhan terlibat dalam "narko-terorisme", yang dinilai sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat. Keberhasilan operasi ini tampaknya menjadi preseden yang membayangi dinamika hubungan Washington dengan negara-negara lain di kawasan, termasuk Kuba.
Dengan demikian, pernyataan Trump dari Air Force One tersebut dapat dilihat sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara menunjukkan kekuatan militer dan membuka ruang bagi penyelesaian melalui jalur perundingan, setidaknya dalam kasus Kuba saat ini.
Artikel Terkait
Pemerintah Fokus Ciptakan Lapangan Kerja di Kawasan Transmigrasi Barelang
Israel Kerahkan Pasukan Besar dan Batasi Akses ke Al-Aqsa Menjelang Ramadan
BMKG Imbau Nelayan Sumsel Waspada Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter
Francesco Totti Konfirmasi Sedang Negosiasi untuk Kembali ke AS Roma