PARADAPOS.COM - Sebuah dokumen yang dirilis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkap adanya seorang warga negara Indonesia yang tercatat sebagai prajurit dalam kesatuan militer tersebut. Data yang diperoleh melalui permintaan kebebasan informasi itu mencatat puluhan ribu personel berkewarganegaraan ganda yang bertugas di IDF hingga Maret 2025, dengan Amerika Serikat sebagai kontributor terbesar.
Dokumen IDF dan Temuan Nama Indonesia
Dokumen tersebut, yang dilansir pada 11 Februari, berhasil diperoleh oleh media investigasi Declassified UK. Data itu diminta oleh pengacara Elad Man dari LSM Hatzlacha melalui undang-undang kebebasan informasi yang diajukan kepada otoritas militer Israel. Isinya menguraikan secara rinci jumlah personel yang memegang kewarganegaraan ganda atau lebih dari dua negara.
Dalam penelusuran lebih lanjut, nama Indonesia—ditulis dalam aksara Ibrani sebagai “אִינדוֹנֵזִיָה”—ternyata muncul dalam daftar tersebut. Dokumen itu menyebutkan bahwa satu orang yang berkewarganegaraan Indonesia tercatat ikut bertugas di dalam barisan IDF. Namun, tidak ada informasi lebih rinci mengenai identitas, pangkat, atau lokasi penugasan prajurit tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, baik Markas Besar TNI maupun Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan ini.
Konteks WNI di Israel dan Upaya Evakuasi
Keberadaan WNI di wilayah konflik sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Saat ketegangan antara Iran dan Israel memuncak pada Juni 2025 lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono pernah mengungkapkan bahwa terdapat 192 WNI yang berada di Israel.
Menlu Sugiono menjelaskan, sebagian besar dari mereka, yakni 167 orang, berada di sekitar wilayah Tel Aviv dan Yerusalem.
"Ada yang memilih untuk tetap berada di sana dan belum menyatakan kesediaannya untuk pindah, namun ini juga terus kita pantau keadaannya," ungkapnya kala itu.
Pada kesempatan yang sama, disebutkan bahwa empat WNI telah berhasil dievakuasi melalui perbatasan Yordania. Namun, Kementerian Luar Negeri memilih untuk tidak merinci lebih jauh prosedur evakuasi tersebut.
"Kita harus hati-hati, karena ini menyangkut keselamatan warga kita di sana," tegas Menlu Sugiono, menekankan alasan keamanan di balik sikap hati-hati pemerintah.
Skala Rekrutan Asing dalam IDF
Investigasi Declassified UK ini mengungkap skala partisipasi personel asing yang cukup signifikan. Secara total, terdapat 47.107 tentara yang tercatat memegang kewarganegaraan Israel dan setidaknya satu kewarganegaraan lain. Angka ini terbagi menjadi 43.194 warga negara ganda dan 3.913 warga negara multinasional.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok terbesar berasal dari Amerika Serikat, dengan total 13.342 personel. Prancis menempati posisi kedua dengan 6.464 personel, diikuti oleh Rusia (5.067), Jerman (3.901), dan Ukraina (3.210). Negara-negara seperti Rumania, Polandia, Kanada, dan beberapa negara Amerika Latin juga tercatat menyumbangkan personel.
Yang menarik, daftar itu juga mencakup sejumlah kecil rekrutan dari negara-negara Arab, termasuk Yaman, Tunisia, Lebanon, Suriah, dan Aljazair. Selain itu, data mengungkap kompleksitas status kewarganegaraan sebagian tentara: 4.440 personel memiliki dua kewarganegaraan asing tambahan, dan 162 personel bahkan memegang tiga kewarganegaraan asing atau lebih.
Kontribusi Warga Negara Inggris
Secara terpisah, laporan tersebut menyoroti kontribusi warga negara Inggris. Sebanyak 2.069 personel dengan kewarganegaraan Inggris tercatat bertugas di IDF, yang terdiri dari 1.686 warga negara ganda Inggris-Israel dan 383 orang dengan status kewarganegaraan multinasional yang mencakup Inggris dan Israel. Angka ini menegaskan bahwa partisipasi warga asing dalam struktur militer Israel merupakan fenomena yang luas, melibatkan puluhan negara dari berbagai belahan dunia.
Temuan ini tentu memunculkan pertanyaan dan analisis lebih lanjut terkait hukum internasional, kewarganegaraan, dan dinamika konflik yang sedang berlangsung. Keberadaan satu nama Indonesia dalam dokumen resmi militer Israel menjadi titik awal yang memerlukan klarifikasi dan pemantauan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Artikel Terkait
Obama Tegaskan Tak Ada Bukti Kunjungan Alien Selama Masa Kepresidenannya
Prajurit Wanita IDF Dikejar Massa di Bnei Brak, Pimpinan Militer dan Oposisi Mengecam
AS Siapkan Skenario Serangan Berkepanjangan ke Iran, Ketegangan di Timur Tengah Meningkat
Obama Akui Keberadaan Alien, Bantah Penyembunyian di Area 51