Rocky Gerung Kritik Alokasi Anggaran Pendidikan dan Fenomena Pelembagaan di Forum Yogyakarta

- Senin, 16 Februari 2026 | 16:50 WIB
Rocky Gerung Kritik Alokasi Anggaran Pendidikan dan Fenomena Pelembagaan di Forum Yogyakarta

PARADAPOS.COM - Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap sejumlah isu nasional, mulai dari alokasi anggaran pendidikan hingga fenomena pelembagaan, dalam sebuah forum diskusi publik di Yogyakarta. Kuliah umum yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026 itu juga menghadirkan suara kegelisahan dari perwakilan pelajar, guru, serta ekonom, yang bersama-sama merefleksikan tantangan sistemik di bidang pendidikan dan pemerintahan.

Satire dan Kritik Terhadap Anggaran Pendidikan

Mengawali paparannya, Rocky Gerung menyelipkan satire yang mengkritik situasi terkini. Di hadapan audiens yang didominasi kaum muda, suaranya terdengar lantang.

“Tongkat kayu dan batu jadi tanaman... Tukang kayu sebentar lagi jadi tahanan,” ucapnya.

Ia kemudian menyoroti persoalan serius mengenai realisasi anggaran pendidikan. Menurutnya, amanat konstitusi untuk mengalokasikan 20 persen APBN kerap menyimpang dari tujuan awalnya.

"Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG berubah jadi kaus. Kaus pindah ke UNICEF sebagai laporan stunting. It is a crime! Itu pelanggaran hak,” tegas pengajar filsafat Universitas Indonesia itu.

Metafora Pemerintahan dan Suara Generasi Muda

Rocky juga menggambarkan tantangan yang dihadapi pemerintahan saat ini dengan sebuah metafora yang kuat tentang warisan masa lalu.

“Dua senti saja Prabowo menunduk, air kotor sepuluh tahun itu masuk ke hidungnya. Tenggelam dia,” tuturnya.

Kegelisahan serupa diungkapkan oleh perwakilan pelajar, Otniel Rahadianta Sembiring dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) Yogyakarta. Ia menyatakan rasa frustrasi generasinya terhadap ruang partisipasi yang terbatas.

"Kami sebagai generasi baru seharusnya membawa ide-ide baru ke dalam demokrasi, tetapi kami dibungkam semena-mena. Sistem yang ada terlalu rigid bagi kami,” ungkapnya.

Kritik dari Dunia Pengajaran dan Ekonomi

Dari sudut pandang praktisi pendidikan, Ketua MGMP Bahasa Inggris DIY, Ismi Fajarsih, mengkritik kecenderungan perubahan kebijakan yang reaktif dan tidak menyentuh akar masalah.

"Kita itu sukanya kasir parasetamol, memberikan masking effect. Penyakitnya hilang sebentar, tapi kita tidak tahu sebab aslinya apa," jelasnya.

Sementara itu, ekonom Rimawan Pradiptyo yang hadir dalam forum yang sama mengingatkan semua pihak tentang fenomena institutional decay atau pelemahan kelembagaan yang menggerogoti fondasi sistem.

Pendidikan antara Cita-Cita dan Realita Feodal

Rocky Gerung kembali mengambil alih pembicaraan dengan membandingkan filosofi pendidikan di Prancis pasca-revolusi dengan kondisi di Indonesia. Menurutnya, semangat memerdekakan manusia dalam pendidikan masih terhalang oleh mentalitas lama.

“Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah," sindirnya pedas.

Refleksi Akhir tentang Pola Pikir dan Esensi Pendidikan

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang turut hadir sebagai pembicara, menutup diskusi dengan penekanan pada pentingnya perubahan perilaku, di luar sekadar penyediaan kebijakan dan infrastruktur.

"Masyarakat sudah tahu buang air di sungai itu bikin mencret, infrastruktur jamban sudah dibangun, tapi mereka tetap ke sungai. Kenapa? Karena otaknya sudah paham, tapi pantatnya belum paham kalau belum kecelup air sungai," ujarnya disambut gelak tawa hadirin.

Forum yang dipandu Aryo Seno Bagaskoro dari Pandu Negeri ini diawali dengan kunjungan ke Pendopo Agung Taman Siswa untuk menelusuri jejak Ki Hajar Dewantara. Seno menegaskan komitmen diskusi ini.

“Pendidikan itu adalah membangun manusia, bukan soal bagaimana pendidikan itu dikapitalisasi atau diprivatisasi. Kami ingin memastikan esensi pendidikan yang memerdekakan tetap terjaga,” pungkasnya.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar