Imlek 2026: Ritual Khidmat, Harmoni Budaya, hingga Remisi Khusus Warnai Perayaan

- Selasa, 17 Februari 2026 | 22:25 WIB
Imlek 2026: Ritual Khidmat, Harmoni Budaya, hingga Remisi Khusus Warnai Perayaan

PARADAPOS.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau Tahun Kuda Api di Indonesia pada 2026 diwarnai oleh beragam ekspresi keagamaan dan budaya. Dari ibadah khidmat di vihara hingga kebijakan pemerintah memberikan remisi, perayaan ini mencerminkan harmoni sosial dan dimensi spiritual yang kental di tengah masyarakat. Laporan dari lapangan menunjukkan bagaimana momen ini tidak hanya dirayakan secara internal umat, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan kota dan sistem hukum.

Suasana Khidmat di Vihara Dharma Bhakti Jakarta

Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan, Jakarta Barat, menjadi salah satu pusat keramaian. Umat Khonghucu memadati setiap sudut vihara untuk melaksanakan rangkaian ritual tradisional, mulai dari berdoa, bersujud, hingga membakar kertas sembahyang. Suasana yang padat namun penuh kekhusyukan terasa di seluruh area.

"Ibadah ramai, padat di atas," ungkap Charles, menggambarkan keramaian di lantai atas vihara.

Di area lain, nuansa penerimaan terhadap para pendatang baru juga terasa. Ritual menggunakan dupa dan kertas dilakukan dengan penuh penghormatan, sementara interaksi antar pengunjung menciptakan atmosfer yang hangat.

"Di sini suasananya cukup bagus sih, welcome banget. Tadi beberapa aku lihat ada orang-orang yang baru ke sini juga diajarin gitu meskipun dari beda agama," tutur Pita, seorang pengunjung yang baru menganut keyakinan Khonghucu.

Tradisi Unik Menanti Rezeki di Depan Vihara

Di luar tembok vihara, sebuah tradisi sosial yang unik turut mewarnai perayaan. Sejak pagi buta, bahkan sejak malam sebelumnya, puluhan warga telah duduk 'ngemper' di trotoar depan Vihara Dharma Bhakti. Mereka menanti rezeki berupa sumbangan sukarela dari para jemaat yang datang beribadah.

"Kalau saya (dari pukul) setengah 7," ujar Dendi yang telah menunggu sejak pagi.

Kegiatan ini, meski terlihat sederhana, ternyata didasari oleh cerita dan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya yang beredar di masyarakat, termasuk melalui platform digital.

"Katanya sih dapetnya gede. Dari TikTok. Katanya ada yang dapet sejuta," ungkap Rizki, yang juga ikut menanti.

Refleksi dan Harapan di Vihara Maitreya Deli Serdang

Jauh dari Jakarta, di Kabupaten Deli Serdang, Vihara Maitreya juga ramai dikunjungi. Lampion-lampion berwarna-warni menghiasi tempat ibadah tersebut. Jemaat Buddha tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga menuliskan harapan pribadi dan keluarga di tempat yang telah disediakan.

Dicky Paskarianto, selaku panitia, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema khusus yang mendalam.

"Jadi ada beberapa tema di sini, tema pertama itu adalah bakti ya. Berbakti terhadap orang tua, kemudian tema yang kedua adalah doa untuk perdamaian dunia. Jadi kita mengajak umat Buddha untuk datang berdoa menulis harapannya sendiri dan juga harapan dunia seperti itu," jelasnya.

Meski jumlah pengunjung dilaporkan lebih sedikit daripada tahun sebelumnya, nuansa kehangatan tetap terpelihara. Bagi sebagian jemaat, Tahun Kuda Api membawa pesan filosofis tersendiri tentang semangat dan pengendalian diri.

"Tahun kuda api ini disuruhnya kita bekerja lebih kencang gitu. Larinya cepat, kan kuda larinya cepat. Kalau api, kita harus semangat gitu, tapi harus jaga emosi. Karena api, kita agak membara gitu, jadi harus jaga kesabaran kita dan jangan mudah emosi," kata Juniwati, salah seorang jemaat.

Transisi Budaya: Dari Imlek Menyambut Ramadan di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar acara bertajuk "Double Blessing: Chinese New Year and Ramadan Kareem" di Bundaran HI. Acara ini menjadi simbol transisi yang unik, merayakan Imlek sekaligus menyambut bulan Ramadan yang hampir bersamaan waktunya. Berbagai atraksi budaya, mulai dari Tionghoa hingga tradisi Nusantara, ditampilkan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, melihat momen ini sebagai suatu keberkahan.

"Jadi ini semua sudah diatur, kalau saya merasakan ini sudah diatur, tidak hanya kebetulan. Dua blessing ini hadir pada waktu yang bersamaan dan menjadi transisi. Mudah-mudahan besok Ramadan bisa kita mulai," ujarnya.

Ia juga berharap acara serupa dapat dikembangkan lebih meriah di tahun-tahun mendatang, terlebih menyambut usia Jakarta yang ke-500 tahun.

"Tahun depan harus lebih hebat dari ini karena tahun depan Jakarta berusia 500 tahun. Barangkali kegiatan ini kita akan bikin seperti Car Free Night, supaya Jakarta kosong, semuanya merayakan untuk menghadapi pesta yang jauh lebih besar," lanjut Rano Karno.

Remisi Khusus sebagai Bentuk Penghormatan

Di sisi lain, perayaan Imlek 2026 juga diwarnai oleh kebijakan pemerintah yang memberikan remisi khusus dan pengurangan masa pidana bagi 44 warga binaan pemasyarakatan beragama Khonghucu. Kebijakan ini merupakan bentuk apresiasi negara terhadap perubahan perilaku positif selama masa pembinaan.

"Negara memberikan penghormatan kepada Saudara-Saudara yang telah menunjukkan perubahan positif selama menjalani masa pembinaan, salah satunya melalui pemberian Remisi Khusus dan Pengurangan Masa Pidana Khusus pada perayaan Imlek kali ini," kata Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dalam keterangannya.

Dari total penerima, 43 orang mendapatkan remisi antara 15 hari hingga 1,5 bulan, dan satu anak binaan mendapat pengurangan pidana 15 hari. Pejabat tinggi pemasyarakatan menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar pengurangan hukuman.

“Remisi dan PMP tidak hanya pengurangan hukuman, melainkan instrumen pembinaan yang mendorong Warga Binaan untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat,” tegas Dirjen Pemasyarakatan Mashudi.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar