PARADAPOS.COM - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan bahwa program SMA Unggul Garuda memiliki konsep dan tujuan yang berbeda dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang dibubarkan pada 2013 lalu. Pernyataan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran publik yang membandingkan kedua program tersebut, sekaligus menjelaskan bahwa SMA Unggul Garuda dirancang khusus untuk mendidik siswa dengan kecerdasan istimewa (CIBI) dengan pendanaan penuh dari negara.
Belajar dari Sejarah: Pembubaran RSBI oleh MK
Program RSBI resmi dihentikan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2013 memutuskan bahwa program tersebut inkonstitusional. Putusan bernomor 5/PUU-X/2012 itu membatalkan pasal yang menjadi dasar hukum RSBI, karena dinilai menciptakan diskriminasi dalam dunia pendidikan dan mengikis penggunaan bahasa Indonesia. Program yang telah berjalan sekitar tujuh tahun itu akhirnya ditutup, meninggalkan catatan penting dalam kebijakan pendidikan nasional.
Konsep Dasar yang Berbeda
Menurut Vira Agustina, Ketua Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda, perbedaan mendasar antara kedua program ini terletak pada sasaran dan tujuannya. RSBI dahulu bertujuan meningkatkan sekolah umum menuju standar internasional. Sementara, SMA Unggul Garuda hadir sebagai bentuk layanan khusus negara untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dengan bakat dan kecerdasan luar biasa.
"Negara itu berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak. Sebetulnya itu yang kita lakukan (di Sekolah Garuda)," jelas Vira dalam sosialisasi PPDB di Kantor Kemendiktisaintek, Rabu (18/2/2026).
Mengenal Sasaran SMA Unggul Garuda: Anak CIBI
SMA Unggul Garuda secara khusus ditujukan bagi siswa yang dikategorikan sebagai anak gifted atau Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI). Kelompok ini memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang sangat tinggi, umumnya di atas 130, serta kemampuan analitis, daya ingat, dan kedalaman berpikir yang menonjol dibandingkan teman sebayanya. Populasi anak CIBI di dunia pun terbilang langka, hanya sekitar 2,2% hingga 5% dari total populasi.
Menjawab Isu Diskriminasi dan Keterbukaan Akses
Vira menekankan bahwa berbeda dengan stigma yang melekat pada RSBI, SMA Unggul Garuda justru didesain untuk mendorong pemerataan akses pendidikan berkualitas tinggi. Sekolah ini bertujuan meningkatkan talenta sains dan teknologi bangsa dengan membuka kesempatan seluas-luasnya, termasuk bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
"Didanai penuh oleh negara, dan tersebar di berbagai daerah," imbuhnya.
Ia melanjutkan bahwa mekanisme seleksi yang dilakukan bersifat terbuka dan berbasis pada kemampuan akademik, bukan latar belakang ekonomi atau jenis sekolah sebelumnya.
"Misalnya ada anak dari lulusan paket B atau homeschooling. Sepanjang dia memenuhi persyaratan, maka boleh mendaftar dan boleh jadi bagian dari Sekolah Garuda. Jadi ini sangat terbuka, tidak ada biaya tambahan lagi," tuturnya.
Penegasan: Bukan Sekedar Rebranding
Pemerintah melalui Kemendiktisaintek berharap masyarakat dapat memahami perbedaan mendasar ini. Vira dengan tegas menyatakan bahwa SMA Unggul Garuda bukanlah bentuk pembaruan citra atau kelanjutan dari program RSBI yang gagal.
"Jadi memang ini bukan rebranding RSBI. Karakteristiknya tidak sama, konsepnya memang berbeda," tegas Vira.
Dengan penjelasan tersebut, diharapkan publik dapat melihat program baru ini dalam kerangka yang tepat, yaitu sebagai upaya negara memberikan layanan pendidikan yang lebih spesifik dan berkeadilan bagi anak-anak berpotensi istimewa, sekaligus investasi jangka panjang untuk kemajuan iptek Indonesia.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Benturan Etika dan Politik Praktis Sebagai Akar Disorientasi Kementerian
TNI Tegaskan Komitmen Berkelanjutan dalam Pemulihan Pascabencana Sumatera
Ahli Gizi Ingatkan Risiko Sembelit hingga Gangguan Metabolik Akibat Kurang Serat Saat Puasa
Xbox Game Pass Tambah Dua RPG Besar: The Witcher 3 dan Kingdom Come Deliverance II