Mandiri dan BRI Laporkan Laba Triliunan di Tengah Beban Penugasan Pemerintah

- Rabu, 18 Februari 2026 | 12:00 WIB
Mandiri dan BRI Laporkan Laba Triliunan di Tengah Beban Penugasan Pemerintah

PARADAPOS.COM - Dua bank BUMN terbesar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), memaparkan kinerja keuangan serta rencana kerja mereka di hadapan anggota Komisi VI DPR dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat (RDP) tertutup, Rabu (18/2). Rapat yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, ini secara khusus membahas capaian kedua bank sepanjang tahun 2025 dan proyeksi mereka untuk tahun 2026, termasuk komitmen dalam menjalankan berbagai program penugasan pemerintah.

Kinerja Positif di Tengah Beban Penugasan

Meski menghadapi kompleksitas penugasan negara, kedua bank dilaporkan tetap menunjukkan ketahanan finansial yang solid. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Sturman Panjaitan, mengungkapkan bahwa dalam pemaparannya, kedua institusi keuangan tersebut mampu menjaga profitabilitas. Bank Mandiri mencatat laba bersih sekitar Rp 56 triliun, sementara BRI berada di kisaran Rp 40 triliun lebih untuk periode 2025.

Sturman menekankan bahwa capaian ini patut diapresiasi mengingat beratnya tanggung jawab yang diemban. "Dan semua itu mereka katakan mereka bisa lakukan. Dan kami bersyukur. Bank Pemerintah tadi, Mandiri maupun BRI masih punya laba bersih. Kalau Bank Mandiri sekitar tadi Rp 56 triliun, kalau BRI punya laba sekitar Rp 40 triliun. Intinya mereka walaupun penugasannya tidak mudah, tapi mereka tetap bertahan," tuturnya seusai rapat berlangsung.

Rincian penugasan yang dimaksud mencakup pembiayaan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), sektor UMKM, program Koperasi Merah Putih, hingga inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski menjadi satu-satunya bank pelat merah yang belum merilis laporan keuangan 2025 secara resmi, BRI telah memberikan gambaran angka laba tersebut dalam forum RDP.

Pembahasan Kebijakan dan Proyeksi Kredit

Selain membahas kinerja, rapat yang berlangsung sekitar empat jam itu juga menyentuh isu kebijakan internal perbankan. Komisi VI dan perwakilan bank sempat mendiskusikan implikasi dari kebijakan penghapusan buku dan tagihan kredit terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Anggota dewan meminta kedua bank untuk terus meninjau dampak kebijakan tersebut secara hati-hati.

Di sisi lain, terkait aksi korporasi seperti rencana akuisisi atau penggabungan, Sturman menegaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi agenda pembahasan khusus dalam pertemuan kali ini.

Target Pertumbuhan dan Sikap terhadap Revisi Proyeksi

Usai rapat, sikap dari kedua direktur utama bank terlihat berbeda. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, memilih untuk tidak memberikan keterangan pers. Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyampaikan optimisme dengan mempertahankan target pertumbuhan kredit untuk tahun 2026 di rentang 7 hingga 9 persen.

Target ini dipertahankan meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengimbau dunia perbankan untuk mengevaluasi ulang proyeksi bisnis mereka di tengah dinamika ekonomi. Riduan menjelaskan bahwa Mandiri akan tetap berpedoman pada Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah disusun pada akhir tahun sebelumnya.

"Jadi kami teruskan aja dengan RBB yang ada sekarang. Nanti Juni mungkin baru kita lihat perkembangannya untuk revisi atau enggak," ujarnya saat ditemui di lokasi. Riduan menambahkan bahwa sejauh ini kinerja operasional Bank Mandiri bahkan kerap melampaui target yang tercantum dalam RBB tersebut, menunjukkan momentum bisnis yang terjaga.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar