PARADAPOS.COM - Sebuah fenomena unik terjadi di Solo, di mana rumah pribadi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, secara viral dijuluki sebagai 'Tembok Ratapan Solo' oleh sejumlah anak muda. Gelombang pengunjung, terutama dari kalangan Generasi Z, memadati lokasi tersebut untuk melakukan aksi simbolis serupa ratapan, sekadar melihat suasana, atau membuat konten untuk media sosial. Nama julukan itu sempat muncul di Google Maps sebelum akhirnya dihapus, menambah daya tarik lokasi yang memang telah lama menjadi destinasi wisata dadakan bagi masyarakat.
Viral di Media Sosial
Gelombang perhatian terhadap rumah Jokowi di Solo ini terutama menyebar melalui platform seperti Instagram. Sebuah unggahan dari akun @indopium_ pada Rabu (18/2/2026) menjadi salah satu yang mempopulerkan istilah tersebut di kalangan anak muda.
"Tembok Ratapan di Solo kini jadi salah satu spot paling hype buat anak muda Gen Z," tulis akun tersebut dalam keterangan videonya.
Video yang beredar menunjukkan beberapa remaja dengan pose serius, meletakkan tangan di pagar kayu rumah sambil menundukkan kepala, meniru gestur yang biasa dilakukan di situs religi tertentu. Adegan ini kemudian memicu tren dan menarik lebih banyak orang untuk datang secara bergantian.
Dari Peta Digital ke Dunia Nyata
Menariknya, julukan 'Tembok Ratapan Solo' sempat tercantum secara resmi di Google Maps, yang tentu saja mempercepat penyebaran informasinya. Namun, berdasarkan penelusuran, label tersebut kini sudah tidak lagi muncul pada layanan pemetaan digital itu. Penghapusan ini justru menjadi bagian dari narasi viral itu sendiri, menunjukkan bagaimana sebuah lelucon atau tren di dunia maya dapat memiliki dampak nyata terhadap sebuah lokasi.
Meski demikian, popularitas rumah tersebut sebagai tempat kunjungan bukanlah hal baru. Lokasi itu telah lama menjadi semacam tujuan wisata dadakan, di mana warga biasa berdatangan dengan harapan dapat bertemu atau sekadar berfoto bersama mantan presiden yang masih sangat populer tersebut.
Dayatarik yang Tak Pudar
Fenomena ini pada dasarnya memperkuat fakta bahwa daya tarik Joko Widodo di mata publik tetap tinggi, bahkan setelah masa jabatannya berakhir. Antusiasme masyarakat tampak nyata, dengan banyak pengunjung yang rela antre dan berdesakan di area depan rumah. Mereka dengan sabar menunggu giliran untuk sekadar menyapa, berbincang singkat, atau mengabadikan momen bersama sang mantan pemimpin.
Interaksi yang hangat dan terbuka inilah yang kemungkinan besar mempertahankan status rumah tersebut sebagai titik kunjungan. Tren 'Tembok Ratapan' yang bersifat sementara ini hanya menambah lapisan cerita baru pada sebuah lokasi yang sudah penuh dengan nilai historis dan kedekatan emosional bagi banyak warga.
Artikel Terkait
Roy Suryo Tampil Jadi Saksi Ahli di Sidang Gugatan Ijazah Jokowi
Wamenag Tegaskan Larangan Sweeping Rumah Makan Saat Ramadan
Suami Anggota DPRD Jateng Tuding Oknum DPR RI Dalang Penembakan di Pekalongan
GP Ansor Gelar Perayaan Imlek, Tegaskan Harmoni Budaya dan Keimanan