Mendagri Tito Karnavian Soroti Data Pemda sebagai Kunci Percepatan Huntap di Pidie Jaya

- Minggu, 22 Februari 2026 | 09:50 WIB
Mendagri Tito Karnavian Soroti Data Pemda sebagai Kunci Percepatan Huntap di Pidie Jaya

PARADAPOS.COM - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan prioritas utama pemulihan pascabencana di Pidie Jaya, Aceh, adalah percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) dan infrastruktur vital. Sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk wilayah Sumatera, Tito mengungkapkan bahwa kecepatan proses ini sangat bergantung pada kelengkapan data dari pemerintah daerah. Ia juga menyoroti pembangunan jembatan permanen yang tengah dikoordinasikan dengan Kementerian PUPR untuk mengatasi keterputusan akses transportasi.

Hunian Tetap dan Tantangan Validasi Data

Dalam upaya memberikan kepastian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, pembangunan huntap menjadi fokus pertama. Tito Karnavian menjelaskan bahwa proses ini melibatkan pemerintahan daerah secara intens, terutama dalam memastikan akurasi data penerima bantuan. Tanpa data yang tepat dan lengkap dari lapangan, percepatan pembangunan akan terhambat.

"Hunian tetap ini prosesnya melibatkan pemerintahan daerah, dan ... pasti saya akan kejar bupati semua, gubernur saya pasti akan kejar (penyiapan datanya)," tegas Tito dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Ia menekankan bahwa permintaan percepatan dari kepala daerah harus diimbangi dengan penyediaan data yang solid. Validasi data satu per satu warga terdampak dianggap sebagai langkah krusial yang tidak bisa dilewati.

"Yang menjadi kunci untuk huntap, karena Pak Bupati bilang, 'Tolonglah bangunkan huntap secepat mungkin'. Kecepatan membangun huntap itu nomor satu adalah data dari Pemda. Ini harus ditanya satu per satu warga ini," jelasnya.

Pembangunan Infrastruktur dan Jembatan Penghubung

Selain hunian, pemulihan infrastruktur menjadi penopang penting bagi kebangkitan ekonomi dan mobilitas masyarakat. Tito secara khusus menyoroti pembangunan jembatan penghubung yang rusak, yang merupakan urat nadi transportasi di wilayah tersebut. Jalur ini tidak hanya vital bagi warga lokal, tetapi juga merupakan bagian dari rute utama penghubung Kota Medan dan Banda Aceh yang kerap dilalui kendaraan berat.

Untuk mengatasi hal ini, koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah dilakukan. Rencananya, jembatan permanen dua jalur akan dibangun untuk menggantikan struktur sementara.

"Menteri PU saya udah kontak tadi dan juga petugas PU. Menteri PU sampaikan sama saya … tadi barusan setengah jam lalu kontak-kontakan, dia bangun jembatan (permanen) di sebelahnya jembatan sementara yang roboh itu," ungkap Tito.

Persoalan yang Masih Membayangi dan Langkah Jangka Panjang

Di balik upaya percepatan, sejumlah tantangan kompleks masih harus diselesaikan. Tito mengakui bahwa persoalan seperti rumah yang masih terendam lumpur dan sekitar 1.500 hektare lahan sawah yang belum pulih memerlukan penanganan berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya fokus pada pemulihan reaktif, tetapi juga mempertimbangkan langkah pencegahan untuk masa depan.

Upaya jangka panjang yang sedang dipertimbangkan termasuk pembangunan sabo dam dan penguatan tanggul. Langkah-langkah struktural ini diharapkan dapat meminimalisir risiko banjir susulan dan meningkatkan ketahanan wilayah terhadap bencana serupa di kemudian hari.

Melalui sinergi lintas kementerian dan dukungan penuh pemerintah daerah, Tito berharap seluruh upaya pemulihan di Pidie Jaya dapat berjalan efektif. Tujuannya jelas: memulihkan kehidupan warga secara menyeluruh dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi masyarakat yang telah terdampak.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar