PARADAPOS.COM - Seorang psikolog klinis yang bertugas sebagai relawan kesehatan mental di Aceh Tamiang mengungkapkan perbedaan pola ketahanan psikologis antara penyintas banjir di wilayah pedesaan dan perkotaan. Anna Aulia, yang diterjunkan melalui Tim Cadangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, menemukan bahwa warga di daerah terpencil cenderung menunjukkan daya pulih yang lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pusat kota, meski menghadapi kehilangan yang sama pascabencana.
Resiliensi yang Berbeda di Tengah Reruntuhan
Selama mendampingi masyarakat di sejumlah kecamatan terdampak, Anna mengamati sebuah pola yang menarik. Di pedesaan, fokus utama warga seringkali langsung tertuju pada upaya bertahan hidup dan membangun kembali dari nol. Sikap ini, meski terlahir dari kondisi serba terbatas, justru menjadi fondasi ketahanan mental yang kuat.
Anna menjelaskan, "Di desa, mereka fokus bagaimana bisa bertahan hidup lagi. Kalau rumah hilang, mereka bilang akan bangun lagi dan cari pekerjaan lagi."
Sebaliknya, di wilayah kota yang lebih berkembang, guncangan emosional terasa lebih dalam dan kompleks. Kehilangan aset, usaha, atau pekerjaan yang telah dibangun bertahun-tahun seringkali membuat proses penerimaan dan pemulihan psikologis memakan waktu lebih lama.
Cara Pandang terhadap Kehilangan
Menurut analisis Anna, inti dari perbedaan ini terletak pada cara memaknai kehilangan. Warga desa yang terbiasa hidup dengan dinamika dan ketidakpastian alam dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik ketika harta benda mereka musnah. Mereka melihat kehilangan sebagai bagian dari siklus hidup yang harus dihadapi dan ditata ulang.
"Perbedaan ini berkaitan dengan cara pandang terhadap kehilangan," tuturnya.
Namun, ia dengan hati-hati menegaskan bahwa temuan ini bukanlah sebuah generalisasi mutlak. Setiap individu memiliki respons unik terhadap trauma. Besarnya dampak psikologis tidak hanya ditentukan oleh faktor geografis, tetapi juga oleh riwayat pengalaman pribadi, kedalaman kehilangan, dan yang terpenting, kekuatan jaringan dukungan sosial di sekitar mereka.
Pendampingan Berlapis untuk Pemulihan Jangka Panjang
Di lapangan, tim relawan melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi warga yang menunjukkan indikasi trauma berat. Pendekatannya tidak instan, melainkan melalui proses pemulihan trauma dan layanan psikososial yang bertujuan membantu penyintas kembali terhubung dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Anna menekankan bahwa pemulihan psikis adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Dalam proses itu, perasaan untuk tidak sendiri menjadi obat yang sangat kuat.
“Yang paling penting adalah mereka merasa tidak sendiri dan tetap memiliki dukungan dari lingkungan,” ungkapnya.
Kehadiran relawan TCK di Aceh Tamiang ini merupakan bagian dari upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI, untuk memperkuat layanan kesehatan komprehensif pascabencana. Selain penanganan medis fisik, dukungan kesehatan mental masyarakat terdampak menjadi salah satu pilar penting dalam program pemulihan jangka panjang.
Artikel Terkait
Como Hentikan Juventus 2-0, Geser ke Posisi Keenam Serie A
Bener Meriah Targetkan Seluruh Pengungsi Huni Huntara Akhir Pekan Ini
Mendikdasmen Ajukan Anggaran Tambahan untuk Revitalisasi 60.000 Sekolah Rusak pada 2026
Eric Dane Meninggalkan Pesan Haru untuk Putrinya dalam Video Terakhir di Netflix