PARADAPOS.COM - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mempertanyakan rencana impor massal 105.000 unit kendaraan niaga dari India untuk proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Asosiasi ini menyoroti bahwa kapasitas produksi dalam negeri, yang melibatkan tujuh pabrik utama, sebenarnya mampu memenuhi permintaan tersebut, khususnya untuk kendaraan jenis pick-up. Kebijakan ini dinilai berpotensi mengabaikan kekuatan industri lokal di tengah kondisi pasar domestik yang masih berjuang pulih.
Kapasitas Produksi Dalam Negeri yang Mumpuni
Data dari Gaikindo menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan. Kapasitas produksi kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia, yang dikuasai oleh 61 anggotanya, mencapai 2,5 juta unit per tahun. Lebih spesifik lagi, untuk segmen kendaraan komersial kelas menengah ke bawah seperti pick-up, kapasitas tahunan bahkan melampaui angka 400.000 unit. Angka ini jauh di atas volume impor yang direncanakan, mengindikasikan adanya ruang produksi yang belum termanfaatkan secara optimal.
Jaringan Produsen dan Keunggulan Lokal
Kekuatan industri nasional ini ditopang oleh tujuh produsen kendaraan niaga yang telah beroperasi lama. Mereka adalah PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Astra Daihatsu Motor. Mayoritas model yang mereka hasilkan merupakan kendaraan penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen, yang selama ini terbukti tangguh di berbagai medan di Tanah Air.
Selain kesesuaian produk, keunggulan lain yang dimiliki kendaraan produksi lokal adalah jaringan layanan purnajual dan bengkel yang sudah tersebar luas hingga ke pelosok. Hal ini menjadi nilai tambah signifikan bagi pengguna akhir, memastikan ketersediaan suku cadang dan perawatan yang lebih mudah dibandingkan dengan produk impor yang jaringan servisnya mungkin masih dalam tahap pengembangan.
Pernyataan Resmi dan Keprihatinan Industri
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, secara tegas menyatakan kesiapan dan keprihatinan industri otomotif nasional. Dalam keterangan persnya pada Jumat (20/2/2026), ia menggarisbawahi bahwa ekosistem industri dalam negeri sebenarnya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan proyek pemerintah.
“Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” jelas Putu Juli.
Ia melanjutkan argumennya dengan menyentuh aspek ketenagakerjaan, sebuah isu sensitif di tengah perlambatan ekonomi. Menurutnya, pemanfaatan kapasitas dalam negeri justru akan memberikan dampak positif yang berantai.
“Ini juga dapat menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja yang saat ini berpotensi cukup tinggi karena penurunan permintaan pasar dalam negeri selama beberapa tahun belakangan,” ungkapnya.
Rincian Kontroversi Impor dari India
Gelombang pertanyaan dari Gaikindo ini muncul menyusul diumumkannya kesepakatan pengadaan kendaraan untuk KDKMP senilai Rp24,66 triliun pada awal Februari 2026. Kontrak tersebut diberikan kepada dua produsen asal India. Mahindra akan memasok 35.000 unit Scorpio Pick Up yang diproduksi di pabriknya di Nashik. Sementara itu, Tata Motors, melalui distributor lokalnya, akan mengirimkan 70.000 unit yang terbagi menjadi 35.000 unit Yodha pick-up dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7.
Keputusan ini terasa kontras dengan realitas pasar otomotif Indonesia. Di satu sisi, penjualan domestik masih berkutat di bawah 1 juta unit per tahun, mencerminkan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Di sisi lain, industri justru menunjukkan performa gemilang di pasar ekspor dengan mencatatkan pengiriman lebih dari 518.000 unit ke 93 negara. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa industri nasional memiliki kompetensi dan kapasitas yang diakui secara global.
Harapan untuk Kebijakan Kedepan
Dari perspektif pelaku industri, langkah impor skala besar ini dinilai sebagai peluang yang terlewatkan untuk mengakselerasi perputaran roda ekonomi sektor otomotif dalam negeri. Gaikindo berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan serupa di masa depan dengan lebih mengutamakan optimalisasi produksi lokal. Pendekatan semacam itu tidak hanya akan memperkuat ketahanan industri nasional, tetapi juga menjaga stabilitas lapangan kerja dan mendukung keberlanjutan seluruh ekosistem otomotif Indonesia, dari produsen utama hingga rantai pemasok komponen yang lebih kecil.
Artikel Terkait
Pelajar MTs Tewas Diduga Dihantam Helm Personel Brimob di Tual, Polri Janjikan Proses Hukum
Santri 12 Tahun Tewas dengan Luka Bakar di Sukabumi, Polisi Tunggu Hasil Lab
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Usai Video Luka Bakar Viral, Polisi Tunggu Hasil Autopsi
Anggota Brimob Ditahan Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual