PARADAPOS.COM - Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia kini memasuki fase baru di pasar modal. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), emiten yang bergerak di bidang tinta dan alat tulis, akan mengalami perubahan pengendali menyusul penandatanganan perjanjian akuisisi oleh Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited. Perusahaan privat asal Hong Kong ini berencana membeli 80% saham BLUE, sebuah langkah yang dipandang sebagai pintu masuk strategis bagi raksasa material baterai asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt, ke dalam ekosistem pasar modal Indonesia.
Strategi Akuisisi dan Peta Kepemilikan
Transaksi ini merupakan realisasi dari rencana yang telah diumumkan pada akhir tahun lalu. Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Dragonmine Mining menyatakan akan mengakuisisi 334,4 juta saham BLUE, setara dengan 80% kepemilikan. Latar belakang Dragonmine sebagai anak usaha Huayou Hongkong Limited—unit investasi luar negeri Zhejiang Huayou Cobalt—menunjukkan bahwa langkah ini lebih dari sekadar pergantian kepemilikan biasa. Ini adalah gerakan strategis dari sebuah pemain global yang telah memiliki pijakan kuat di industri nikel Indonesia, seperti di kawasan industri Morowali dan Pomalaa.
Potensi Transformasi Bisnis dan Tren Backdoor Listing
Analis pasar modal memandang akuisisi ini sebagai awal dari transformasi bisnis mendasar bagi BLUE. Pergantian pengendali berpotensi mengubah arah perusahaan dari produsen alat tulis menjadi bagian dari rantai pasok baterai kendaraan listrik yang sedang tumbuh pesat.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menjelaskan bahwa langkah semacam ini dapat menjadi alternatif efisien bagi perusahaan besar untuk masuk ke bursa efek. “Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” tuturnya.
Fenomena serupa, yang dikenal sebagai backdoor listing, sebelumnya telah terjadi. PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) diakuisisi oleh entitas yang terkait dengan pendiri CNGR—produsen prekursor baterai global—dan kemudian berganti nama serta merencanakan rights issue untuk menyerap aset pertambangan.
Dampak dan Ekspektasi Pasar
Antisipasi pasar terhadap rencana transformasi ini telah tercermin dalam pergerakan harga saham BLUE, yang menunjukkan kenaikan signifikan dalam setahun terakhir. Meski sempat mengalami koreksi setelah pengumuman resmi, minat investor tetap tinggi, mencerminkan optimisme terhadap masa depan perusahaan di bawah kendali baru.
Bagi konglomerat seperti Huayou, mengakuisisi perusahaan publik yang sudah ada dinilai lebih cepat dan praktis dibandingkan melalui proses IPO yang panjang. Melalui skema ini, mereka dapat langsung mengakses pasar modal domestik untuk menghimpun dana, misalnya melalui rights issue, guna mendanai proyek-proyek hilirisasi nikel yang padat modal.
Kehadiran sebagai entitas publik juga membawa dimensi lain: peningkatan transparansi, kepatuhan regulasi yang lebih ketat, dan penguatan profil environmental, social, and governance (ESG). Hal ini menjadi pertimbangan penting untuk menarik kepercayaan dari investor institusional global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam berinvestasi.
Artikel Terkait
KONI NTT Gelar Rapat Strategis, Target 37 Emas dan Pembenahan Venue untuk PON 2028
Seleksi FKDM Jakarta Pusat Disorot, Diduga Abaikan Tes Tertulis dan Wawancara
Gubernur DKI Gelar Rapat Khusus Bahas Trotoar dan Lapangan Padel
Polisi Tangkap Penjambret yang Sasar Nenek Penjual Nasi Uduk di Bekasi