Menteri Transmigrasi Canangkan Papua Sebagai Pusat Ekonomi Biru Baru

- Rabu, 25 Februari 2026 | 10:25 WIB
Menteri Transmigrasi Canangkan Papua Sebagai Pusat Ekonomi Biru Baru

PARADAPOS.COM - Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengungkapkan rencana strategis untuk mengubah kawasan transmigrasi di Papua menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Fokus utama pembangunan akan bertumpu pada penguatan sektor perikanan dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal. Langkah konkret ini diwujudkan melalui penjajakan kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan PT Agrinas Jaladri Nusantara.

Mengubah Paradigma: Dari Relokasi ke Ekosistem Ekonomi

Dalam pandangannya, kawasan transmigrasi harus mengalami pergeseran paradigma mendasar. Kawasan itu tidak lagi sekadar tempat pemindahan penduduk, melainkan harus dibangun sebagai sebuah ekosistem ekonomi yang utuh. Ekosistem ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan kerja yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Iftitah menegaskan visi tersebut dengan penuh keyakinan. "Kawasan transmigrasi harus menjadi pusat ekonomi baru. Kita tidak bisa hanya memindahkan penduduk, tetapi membangun ekosistem usaha. Papua akan kita dorong menjadi jangkar ekonomi di kawasan Pasifik," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima media, Rabu, 25 Februari 2026.

Perikanan Sebagai Pilar Strategis

Pilihan sektor perikanan sebagai tulang punggung pembangunan dinilai sangat strategis. Analisis yang dilakukan menunjukkan, meski Indonesia dikaruniai sumber daya laut yang sangat besar, pemanfaatannya belum optimal. Kendala utama terletak pada rantai pasok yang lemah, industri pengolahan yang belum berkembang, serta keterbatasan tenaga kerja terampil di lapangan.

Di sinilah program transmigrasi diharapkan dapat berperan sebagai solusi. "Potensi perikanan kita sangat besar. Transmigrasi hadir untuk memperkuat sumber daya manusianya, agar produksi, pengolahan, hingga distribusi bisa berjalan dalam satu sistem," ungkapnya.

Papua Sebagai Wilayah Prioritas

Papua dipilih sebagai lokasi prioritas karena beberapa pertimbangan mendasar. Wilayah ini masih memiliki kondisi laut yang relatif alami dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Potensi besar itu membuka peluang untuk mengembangkan konsep ekonomi biru dan hijau yang berkelanjutan.

Menteri Iftitah menekankan pentingnya pendekatan yang sesuai dengan karakteristik lokal. "Papua memiliki laut yang sangat baik. Kita ingin pembangunan di Papua berbasis pada kekuatan wilayahnya sendiri, bukan pendekatan yang seragam," tegasnya.

Strategi Implementasi: Patriot dan Kolaborasi

Untuk mewujudkan rencana ini, Kementerian Transmigrasi telah menjalankan Program Transmigrasi Patriot. Program ini menempatkan lulusan perguruan tinggi dan peneliti di kawasan transmigrasi. Tugas mereka adalah mendampingi masyarakat, mengidentifikasi potensi wilayah, serta mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi yang produktif.

Kolaborasi dengan pihak swasta, dalam hal ini PT Agrinas Jaladri Nusantara, menjadi pilar pendukung lainnya. Kerja sama ini akan dimulai dengan proyek percontohan di sejumlah wilayah terpilih. Model pengembangan ini nantinya diharapkan dapat menjadi acuan yang bisa diterapkan di kawasan transmigrasi lain di seluruh Indonesia.

Iftitah memaparkan tahapan awalnya. "Kita mulai dari pembukaan lapangan kerja dan membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, baik melalui perikanan tangkap maupun budidaya. Jika berhasil, ini bisa direplikasi secara nasional," tuturnya.

Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, swasta, dan tenaga ahli muda ini, Menteri Iftitah optimistis kawasan transmigrasi dapat bertransformasi. Harapannya, kawasan ini tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi daerah, tetapi juga fondasi yang kokoh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar