PARADAPOS.COM - Kinerja kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia berpeluang tumbuh lebih agresif, namun hal itu sangat bergantung pada performa tiga sektor ekonomi kunci. Analisis ini disampaikan oleh Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang menekankan bahwa perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan menjadi penopang utama, menyumbang sekitar 75% dari total kredit UMKM nasional. Pertumbuhan yang konsisten di ketiga sektor ini dinilai menjadi kunci pendorong akselerasi pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Ketergantungan pada Tiga Sektor Kunci
Andry Asmoro, yang akrab disapa Asmo, memaparkan bahwa komposisi kredit UMKM masih sangat terkonsentrasi. Sektor perdagangan besar dan eceran mendominasi dengan porsi 45%, diikuti oleh pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 19,4%, serta industri pengolahan. Ketiganya tidak hanya menjadi tulang punggung pembiayaan UMKM, tetapi juga kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Namun, laju pertumbuhannya dalam tiga tahun terakhir bervariasi. Sektor perdagangan dan manufaktur rata-rata tumbuh masing-masing 5% dan 4,8%. Sementara itu, sektor pertanian tercatat masih tertinggal dengan pertumbuhan rata-rata hanya 2,4%.
“Kalau sektor-sektor tersebut belum tumbuh secara konsisten, misalnya pertanian rata-rata masih tumbuhnya di 2,4 persen, memang sangat sulit untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM lebih agresif lagi,” ungkap Asmo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu malam.
Proyeksi Pertumbuhan dan Strategi Penyaluran
Secara keseluruhan, tim ekonom Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan tahun ini berada di kisaran 9-11%. Untuk segmen UMKM khususnya, Asmo memperkirakan pertumbuhannya akan lebih moderat, yaitu sekitar 4-5%. Angka pertumbuhan di level 4% saja sudah dianggap cukup baik dalam kondisi saat ini. Seiring dengan itu, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan diperkirakan sedikit menurun dari 19% menjadi sekitar 17%.
Meski demikian, prospek ke depan dinilai masih terbuka lebar, terutama didorong oleh program-program pemerintah yang membangun ekosistem usaha. Asmo mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menciptakan rantai nilai baru, sehingga mendorong permintaan kredit mikro dan konsumsi.
Ia juga menggarisbawahi satu tantangan klasik: pentingnya kejelasan off-taker atau penyerap produk bagi UMKM. Integrasi yang baik dalam sebuah ekosistem bisnis akan mempermudah akses ke pembiayaan berbasis invoice, yang sekaligus menciptakan sumber kredit yang lebih aman bagi perbankan.
Pendekatan Bank Mandiri dan Kinerja Portofolio
Strategi integrasi ekosistem inilah yang juga dijalankan oleh Bank Mandiri. Bayu Trisno Arief Setiawan, SVP Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, menjelaskan bahwa perseroan memanfaatkan basis nasabah korporasi besar untuk mendorong penyaluran kredit ke UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok mereka.
“Kalau di Bank Mandiri, sejauh ini NPL UMKM masih di bawah 2 persen, bahkan di bawah 1,5 persen. Jadi kita bisa manage, karena strategi pertumbuhan kita diarahkan kepada strategi untuk pemberdayaan UMKM yang merupakan turunan dari nasabah-nasabah korporasi,” jelas Bayu.
Dari total portofolio kredit Bank Mandiri yang mencapai sekitar Rp1.500 triliun, porsi micro banking atau pembiayaan ultra mikro dan mikro baru sekitar Rp100 triliun. Meski relatif kecil, segmen ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam lima tahun terakhir. Bayu mencatat, performa kredit UMKM di Januari 2026 juga cukup menggembirakan, baik dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
“Ini yang membuat kami semakin yakin bahwa peran kami untuk memberdayakan UMKM khususnya untuk naik kelas itu harus terus kita dorong,” tegasnya.
Artikel Terkait
Baznas Tegaskan Dana ZIS Tak untuk Program Makan Bergizi Gratis
LPDP Hitung Nilai Pengembalian Dana Beasiswa Alumni yang Hina Negara
Atalanta Balikkan Agregat, Lolos ke 16 Besar Usai Kalahkan Dortmund 4-1
Polres Tangerang Kota Beri Bantuan ke Anak Pemulung yang Jual Gambar Karyanya