Ketua Umum WALUBI Nyalakan Pelita Perdamaian di Candi Mendut, Tandai Pembukaan Perayaan Waisak

- Minggu, 31 Mei 2026 | 07:50 WIB
Ketua Umum WALUBI Nyalakan Pelita Perdamaian di Candi Mendut, Tandai Pembukaan Perayaan Waisak
PARADAPOS.COM - Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), S. Hartati Murdaya, secara resmi membuka rangkaian perayaan Hari Raya Trisuci Waisak dengan menyalakan pelita perdamaian di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah, pada hari yang penuh khidmat. Acara yang dihadiri oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama serta sejumlah pemuka agama ini menjadi simbol awal dari serangkaian prosesi keagamaan yang sarat makna. Lilin-lilin yang dinyalakan membentuk formasi tulisan "World Peace", menjadi representasi visual dari harapan akan keharmonisan dan perdamaian universal.

Prosesi Penyalaan Pelita dan Maknanya

Suasana di pelataran Candi Mendut terasa hening namun penuh semangat ketika S. Hartati Murdaya, didampingi oleh para pejabat Kementerian Agama dan tokoh agama Buddha, menyalakan pelita perdamaian. Api yang dijaga dengan saksama itu tidak hanya menjadi penerang fisik, melainkan juga simbol dari tekad untuk menebarkan kedamaian di tengah masyarakat. Formasi "World Peace" yang tercipta dari ratusan lilin kecil itu menjadi pengingat akan pesan universal yang dibawa oleh perayaan Waisak.

Kirab Budaya Menuju Candi Borobudur

Setelah penyalaan pelita, rangkaian acara berlanjut dengan kirab budaya yang menempuh jarak sekitar 4 kilometer. Ribuan umat Buddha berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, mengiringi mobil hias yang membawa rupang Buddha, hasil bumi, serta sarana puja berupa api dharma dan air berkah. Kirab ini bukan sekadar prosesi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menyatukan rasa syukur dan harapan dalam setiap langkahnya.

Puncak Perenungan di Candi Borobudur

Sesampainya di Candi Borobudur, umat Buddha akan mengikuti prosesi sembahyang dan perenungan suci. Momen ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian perayaan, di mana setiap individu diajak untuk merenungkan nilai-nilai kebajikan dan kedamaian. "Melalui doa dan perenungan di Candi Borobudur, umat Buddha menyampaikan harapan agar nilai-nilai perdamaian dan keharmonisan terus terjaga serta dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat," ujar S. Hartati Murdaya di sela-sela acara. Perayaan Waisak tahun ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat refleksi diri. Dengan latar belakang Candi Borobudur yang megah, setiap doa yang dipanjatkan diharapkan mampu membawa dampak positif bagi kehidupan sehari-hari, baik secara personal maupun sosial.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar